Kamis, 20 Agustus 2026

𝐓𝐚𝐧𝐤 𝐒𝐜𝐨𝐫𝐩𝐢𝐨𝐧 - 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐯𝐚𝐥𝐞𝐫𝐢 𝐓𝐍𝐈-𝐀𝐃

𝐓𝐚𝐧𝐤 𝐒𝐜𝐨𝐫𝐩𝐢𝐨𝐧 adalah tank ringan (light tank) buatan perusahaan Inggris, Alvis Vehicles, yang dibeli oleh Indonesia pada era 1990-an. Indonesia memiliki sekitar 100 unit Tank Scorpion (khususnya varian Scorpion-90) yang dioperasikan oleh Korps Kavaleri TNI Angkatan Darat.


𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂 (𝑺𝒄𝒐𝒓𝒑𝒊𝒐𝒏-90)
Persenjataan: Menggunakan meriam (kanon) Cockerill Mk III M-A1 berkaliber 90mm, berbeda dengan versi standar Inggris yang hanya memakai meriam 76mm.
Bobot & Dimensi: Sangat ringan untuk ukuran kendaraan lapis baja, yaitu hanya sekitar 8,07 ton, dengan panjang 4,9 meter dan lebar 2,2 meter.
Kecepatan: Mampu bergerak lincah hingga kecepatan 76–80 km/jam.
Kru: Dioperasikan oleh 3 orang awak (Komandan, Penembak/Gunner, dan Pengemudi).
Material: Lambung tank terbuat dari paduan aluminium khusus sehingga tahan karat dan sangat ringan.
𝑲𝒆𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒍𝒂𝒏 & 𝑴𝒐𝒃𝒊𝒍𝒊𝒕𝒂𝒔
Desainnya yang kompak membuat tank ini sangat cocok dengan geografis Indonesia. Tank Scorpion bisa melewati jembatan-jembatan kecil, bermanuver di jalanan sempit, serta dapat diangkut menggunakan pesawat udara (airportable) untuk mobilisasi cepat antar pulau.



𝑺𝒆𝒋𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒂𝒅𝒂𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒏𝒌 𝑺𝒄𝒐𝒓𝒑𝒊𝒐𝒏 oleh TNI AD bermula pada era Orde Baru di pertengahan tahun 1990-an sebagai bagian dari rencana peremajaan dan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Korps Kavaleri TNI AD.
Presiden Soeharto secara resmi menyetujui proyek pembelian ini pada tanggal 20 September 1994. Pembelian tank ringan buatan Alvis Vehicles (Inggris) ini dilakukan dalam dua tahap utama
𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝 𝐼 (𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑘 1995): Kontrak pertama ditandatangani pada 13 Januari 1995 antara TNI AD (atas nama Departemen Pertahanan RI) dan Alvis Vehicles Limited, Inggris, dengan nilai kontrak £78,93 juta. Pengiriman tank tahap pertama ini tiba secara bergelombang mulai Juli 1995 hingga September 1996.
𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝 𝐼𝐼 (𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑘 1996): Indonesia melanjutkan pengadaan tahap kedua untuk tahun anggaran 1996–1997 menggunakan fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai USD 125 juta. Unit tank pada tahap kedua ini dikirim ke tanah air dalam rentang waktu Januari 1998 hingga Februari 1999.


𝑲𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒗𝒆𝒓𝒔𝒊 𝑰𝒏𝒕𝒆𝒓𝒏𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝑺𝒌𝒂𝒏𝒅𝒂𝒍 𝑫𝒐𝒎𝒆𝒔𝒕𝒊𝒌
Larangan Penggunaan (Embargo): Pemerintah Inggris menjual tank ini dengan syarat tertulis bahwa tank Scorpion tidak boleh digunakan untuk operasi keamanan dalam negeri atau menekan gerakan separatis domestik. Ketika TNI AD mengerahkan tank Scorpion ke Aceh dalam Operasi Militer tahun 2003 untuk menghadapi GAM, Inggris melayangkan protes keras yang sempat mengganggu hubungan diplomatik kedua negara.
Isu Penggelembungan Harga (Markup): Pasca-jatuhnya rezim Orde Baru, pengadaan ini sempat disorot oleh media internasional (seperti harian The Guardian) dan diselidiki di Indonesia. Muncul dugaan skandal suap dan penggelembungan harga alutsista senilai jutaan poundsterling yang menyeret keterlibatan keluarga Cendana selaku agen perantara pembelian saat itu.
Meskipun diwarnai kontroversi politik dan diplomasi, tank Scorpion-90 tetap menjadi salah satu pemukul utama kavaleri TNI AD yang andal sejak akhir tahun 1990-an sebelum era kedatangan tank yang lebih modern.

Kamis, 13 Agustus 2026

"𝐌𝟏𝟎 𝐁𝐨𝐨𝐤𝐞𝐫: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐃𝐨𝐥𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐊𝐞𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧"

𝐌𝟏𝟎 𝐁𝐨𝐨𝐤𝐞𝐫 adalah kendaraan tempur lapis baja atau meriam serbu (assault gun) terbaru yang dikembangkan oleh General Dynamics Land Systems (GDLS) untuk Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army). Meski secara visual dan fisik sangat mirip dengan tank ringan (light tank), US Army secara resmi mengategorikannya sebagai kendaraan Mobile Protected Firepower (MPF), bukan sebagai Main Battle Tank (MBT).



𝐅𝐮𝐧𝐠𝐬𝐢 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚
𝑫𝒖𝒌𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑰𝒏𝒇𝒂𝒏𝒕𝒆𝒓𝒊: Dirancang khusus untuk mendukung Tim Tempur Brigade Infanteri (Infantry Brigade Combat Teams).
Penghancur Hambatan: Bertugas menekan dan menghancurkan benteng pertahanan, bunker, parit, serta sistem persenjataan musuh.
𝑷𝒓𝒐𝒕𝒆𝒌𝒔𝒊 𝑻𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒏: Memberikan perlindungan sekunder bagi pasukan infanteri dari ancaman kendaraan lapis baja ringan musuh.

𝐒𝐩𝐞𝐬𝐢𝐟𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐓𝐞𝐤𝐧𝐢𝐬 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚
𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒋𝒂𝒕𝒂𝒂𝒏: Dilengkapi dengan meriam utama kaliber 105 mm (menggunakan model M35) serta senapan mesin koaksial 7,62 mm.
𝑺𝒊𝒔𝒕𝒆𝒎 𝑲𝒆𝒏𝒅𝒂𝒍𝒊 𝑻𝒆𝒎𝒃𝒂𝒌: Menggunakan sistem canggih yang serupa dengan tank M1A2 Abrams, memberikan akurasi tinggi dan kemampuan pandangan termal malam hari.
𝑩𝒐𝒃𝒐𝒕 & 𝑴𝒐𝒃𝒊𝒍𝒊𝒕𝒂𝒔: Memiliki berat sekitar 38 hingga 42 ton. Bobot ini jauh lebih ringan dari Abrams, sehingga dua unit M10 Booker dapat diangkut sekaligus menggunakan satu pesawat kargo C-17 Globemaster III.
𝑲𝒆𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏: Mampu melaju hingga kecepatan 60 km/jam dengan jangkauan operasional sekitar 560 km.


𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧.
M10 Booker berakar dari kebutuhan Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) untuk mengisi celah kemampuan tempur infanterinya pasca-Perang Dingin, namun program ini mengalami dinamika besar hingga pembatalannya yang mengejutkan.
Berikut adalah linimasa kronologis pengembangan kendaraan tempur tersebut:
1. 𝑳𝒂𝒕𝒂𝒓 𝑩𝒆𝒍𝒂𝒌𝒂𝒏𝒈 (2013–2015)
Kesenjangan Tembakan: Sejak mempensiunkan tank ringan M551 Sheridan pada tahun 1996, pasukan infanteri ringan dan lintas udara AS tidak lagi memiliki kendaraan lapis baja dengan meriam besar yang lincah.
Strategi Baru: Pada September 2015, US Army merilis dokumen strategi modernisasi kendaraan tempur. Mereka mengidentifikasi bahwa Tim Tempur Brigade Infanteri (Infantry Brigade Combat Teams/IBCT) kekurangan dukungan tembakan langsung yang terlindungi untuk menembus benteng dan bunker musuh.


2. 𝑷𝒓𝒐𝒈𝒓𝒂𝒎 𝑴𝒐𝒃𝒊𝒍𝒆 𝑷𝒓𝒐𝒕𝒆𝒄𝒕𝒆𝒅 𝑭𝒊𝒓𝒆𝒑𝒐𝒘𝒆𝒓 / 𝑴𝑷𝑭 (2016–2017)
Peluncuran Program: Untuk mengatasi masalah tersebut, US Army meluncurkan program kompetisi yang dinamakan Mobile Protected Firepower (MPF).
Spesifikasi Awal: Kriteria utama awalnya mencakup mobilitas udara yang tinggi (bisa diangkut pesawat kargo), memiliki proteksi mumpuni terhadap artileri, dan membawa senjata kaliber besar untuk melubangi pertahanan musuh.
3. 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒂𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒕𝒂𝒕 𝑫𝒖𝒂 𝑹𝒂𝒌𝒔𝒂𝒔𝒂 (2018–2022)
Kandidat Terpilih: Pada akhir 2018, US Army memilih dua perusahaan pertahanan raksasa untuk membuat prototipe, yaitu BAE Systems dan General Dynamics Land Systems (GDLS).
Uji Coba Lapangan: Mulai tahun 2020, prototipe dari kedua vendor diuji langsung oleh para prajurit untuk dievaluasi kinerjanya.
Pemenang Kontrak: Pada Juni 2022, proposal dari GDLS yang berbasis pada platform kendaraan tempur Griffin II resmi dinyatakan sebagai pemenang kontrak. US Army memesan batch pertama sebanyak 96 unit kendaraan.


4. 𝑷𝒆𝒓𝒆𝒔𝒎𝒊𝒂𝒏 𝑵𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 𝑨𝒘𝒂𝒍 (2023–2024)
Pada tanggal 9 Juni 2023, bersamaan dengan hari jadi US Army, kendaraan MPF ini resmi diberi nama M10 Booker.
Asal-usul NamaNama "Booker" diambil sebagai bentuk penghormatan kepada dua prajurit Angkatan Darat AS yang gugur di medan perang:Prajurit Robert D. Booker: Gugur dalam Perang Dunia II (tahun 1943) dan menerima penghargaan Medal of Honor.Sersan Staf Stevon A. Booker: Gugur dalam Perang Irak (tahun 2003) saat operasi Thunder Run di Baghdad dan menerima penghargaan Distinguished Service Cross
Pengiriman Pertama: Unit produksi awal (Low-Rate Initial Production/LRIP) mulai dikirimkan ke militer AS untuk pengujian operasional lanjutan pada Februari 2024.
5. 𝑴𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒊𝒔 𝒅𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒕𝒂𝒍𝒂𝒏 𝑷𝒓𝒐𝒈𝒓𝒂𝒎 (2025)
Kendala Operasional: Selama masa uji coba, muncul beberapa masalah krusial. Hal ini meliputi kebocoran gas beracun dari meriam ke dalam kubah setelah penembakan, serta masalah mesin yang cepat panas dalam kondisi kinerja tinggi.
Melenceng dari Konsep: Kendala terbesar berpusat pada bobot kendaraan. M10 Booker yang awalnya diimpikan sebagai "tank ringan" yang lincah dan bisa diterjunkan dari udara (airdropable), justru membengkak menjadi kendaraan berbobot hampir 42 ton (mendekati tank berat).
Penghentian Resmi: Pada Mei 2025, Menteri Pertahanan AS mengambil langkah tegas dengan membatalkan secara resmi proyek M10 Booker melalui memorandum reformasi pengadaan senjata. Proyek senilai miliaran dolar ini dihentikan karena dianggap tidak efisien, terlalu berat, dan tugasnya terlalu tumpang tindih dengan tank utama Abrams. sekitar 80 unit kendaraan yang terlanjur diproduksi akhirnya direklasifikasi statusnya.
#usarmy #tank #army

Rabu, 12 Agustus 2026

𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚

𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 yang digunakan dalam pertempuran adalah The Turtle, yang dirancang oleh penemu asal Amerika Serikat bernama David Bushnell pada tahun 1776. Kapal ini digunakan oleh pasukan kolonial Amerika untuk menyerang kapal perang Inggris selama Perang Kemerdekaan Amerika Serikat.
Berikut adalah garis waktu evolusi kapal selam militer dari masa ke masa untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh:

𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡

𝑻𝒉𝒆 𝑻𝒖𝒓𝒕𝒍𝒆 (1776): Memiliki bentuk unik seperti buah kenari atau telur. Kapal ini digerakkan secara manual menggunakan kayuh tangan dan dirancang hanya untuk satu awak. Misinya adalah menempelkan bahan peledak secara rahasia ke lambung kapal musuh di bawah air.
Dipakai tanggal 7 September 1776. Targetnya kapal perang Inggris bernama HMS Eagle. Misi ini gagal karena tidak bisa menempelkan bahan peledak ke lambung kapal.

The Turtle


𝑵𝒂𝒖𝒕𝒊𝒍𝒖𝒔 (1800): Dirancang oleh Robert Fulton untuk Angkatan Laut Prancis. Kapal ini menjadi salah satu kapal selam pertama yang menggunakan sistem kemudi internal dan membawa bahan peledak yang lebih maju.

Nautilus


𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫 𝐌𝐨𝐝𝐞𝐫𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚
Jika tolok ukurnya adalah kapal selam militer modern yang diadopsi secara resmi ke dalam armada angkatan laut terstruktur, maka status tersebut dipegang oleh:

USS Holland


𝑼𝑺𝑺 𝑯𝒐𝒍𝒍𝒂𝒏𝒅 (𝑺𝑺-1): Ditugaskan secara resmi oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada 12 Oktober 1900. Dirancang oleh John Philip Holland, kapal ini menjadi kapal selam militer modern pertama di dunia karena memadukan mesin pembakaran internal (bensin) untuk melaju di permukaan dan motor listrik bertenaga baterai saat menyelam bawah air. Kapal selam inilah yang menjadi cikal bakal desain armada bawah laut dunia saat ini.

Selasa, 11 Agustus 2026

Pembom AS terbesar Saat ini : 𝐁𝐔𝐅𝐅 (𝐁𝐢𝐠 𝐔𝐠𝐥𝐲 𝐅𝐚𝐭 𝐅𝐞𝐥𝐥𝐨𝐰), B-52

Pesawat pembom terbesar dan terberat yang aktif di militer Amerika Serikat saat ini adalah 𝐵𝑖𝑔 𝑈𝑔𝑙𝑦 𝐹𝑎𝑡 𝐹𝑒𝑙𝑙𝑜𝑤 - Boeing B-52 Stratofortress.



𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂 𝑩-52 𝑺𝒕𝒓𝒂𝒕𝒐𝒇𝒐𝒓𝒕𝒓𝒆𝒔𝒔
Rentang sayap: 56,4 meter (185 kaki)
Panjang pesawat: 48,5 meter (159 kaki 4 inci)
Berat kosong: Sekitar 83.915 kilogram
Berat lepas landas maksimum (MTOW): Hingga 221.353 kilogram
Kapasitas muatan senjata: Hingga 31.751 kilogram (70.000 pon) berupa bom dan rudal.
Boeing B-52 Stratofortress dirancang pada akhir dekade 1940-an sebagai pembom strategis jarak jauh berkemampuan nuklir untuk menggantikan peran B-36 Peacemaker.
𝑨𝒔𝒂𝒍-𝑼𝒔𝒖𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝑬𝒓𝒂 𝑷𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑫𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏1948 (𝑪𝒐𝒓𝒆𝒕𝒂𝒏 𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏 𝑨𝒘𝒂𝒍):
Boeing awalnya mengajukan desain pembom bermesin turboprop. Namun, Angkatan Udara AS (USAF) meminta kecepatan yang lebih tinggi. Dalam waktu satu akhir pekan di sebuah hotel, tim insinyur Boeing mengubah total desain tersebut menjadi pesawat jet bersayap panah (swept-wing) dengan delapan mesin jet.
1952 (Penerbangan Perdana): Prototipe YB-52 pertama kali terbang pada 15 April 1952.
1955 (Masuk Dinas Aktif): B-52 resmi beroperasi di bawah Strategic Air Command (SAC) AS untuk menjadi pilar utama pencegahan nuklir selama Perang Dingin.


𝑬𝒗𝒐𝒍𝒖𝒔𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒐𝒅𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑽𝒂𝒓𝒊𝒂𝒏𝑽𝒂𝒓𝒊𝒂𝒏 𝑨 𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝑮:
Berbagai peningkatan awal fokus pada penambahan kapasitas bahan bakar, sistem radar, dan modifikasi ekor pesawat.
Varian B-52H (Varian Saat Ini): Ini adalah varian terakhir yang diproduksi (1961–1962). Varian H beralih menggunakan mesin turbofan Pratt & Whitney TF33 yang jauh lebih efisien dan dilengkapi sistem pertahanan elektronik yang lebih modern.Konversi Peran: Memasuki era Perang Vietnam (1960-an), fungsi B-52 bergeser dari pembom nuklir ketinggian tinggi menjadi pembom konvensional yang melakukan serangan bom karpet (carpet bombing) skala besar dari ketinggian rendah dan menengah.
𝑷𝒓𝒐𝒈𝒓𝒂𝒎 𝑴𝒐𝒅𝒆𝒓𝒏𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑨𝒃𝒂𝒅 𝒌𝒆-21
Meskipun usianya sudah tua, AS terus memperbarui armada B-52H agar tetap relevan hingga tahun 2050-an melalui beberapa program utama:
Ganti Mesin Baru (CERP): AS mengganti mesin tua TF33 dengan mesin Rolls-Royce F130 yang baru. Upgrade ini mengubah nama varian pesawat menjadi B-52J.
Modernisasi Radar: Pemasangan sistem radar Active Electronically Scanned Array (AESA) baru untuk meningkatkan deteksi target jarak jauh.
Sistem Senjata Digital: Modifikasi ruang bom internal agar bisa membawa persenjataan pintar terbaru berpanduan GPS (JDAM) dan rudal jelajah hipersonik masa depan.
𝑩𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒆𝒓𝒆𝒕𝒂𝒏 𝒎𝒊𝒔𝒊 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝒖𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑩-52:
𝟏. 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐕𝐢𝐞𝐭𝐧𝐚𝐦 (𝟏𝟗𝟔𝟓–𝟏𝟗𝟕𝟑)
Operasi Arc Light (1965): Debut pertempuran pertama B-52. Pesawat ini dikerahkan dari Guam untuk melakukan carpet bombing (pengeboman karpet) terhadap pangkalan dan jalur logistik Viet Cong di hutan-hutan Vietnam Selatan.


Operasi Linebacker II (1972): Dikenal sebagai "Christmas Bombings". Ini adalah kampanye pengeboman udara terbesar setelah Perang Dunia II, di mana armada B-52 menyerang target-target vital di Vietnam Utara (Hanoi dan Haiphong) secara intensif selama 11 hari untuk memaksa mereka kembali ke meja perundingan.
𝟐. 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐥𝐮𝐤 / 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐃𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐦 (𝟏𝟗𝟗𝟏)
Dampak Psikologis Besar: B-52 menjatuhkan sekitar 40% dari total semua bom yang dilepaskan oleh pasukan koalisi selama perang. Serangan bom karpetnya yang masif sangat efektif menghancurkan moral pasukan elit Garda Republik Irak di gurun.




Operasi Secret Squirrel: Tujuh pesawat B-52 melakukan penerbangan non-stop selama 35 jam sejauh 22.500 km dari Louisiana (AS) menuju Timur Tengah hanya untuk melepaskan rudal jelajah rahasia berpanduan laser ke target-target di Irak sebelum langsung pulang ke pangkalan.
𝟑. 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐨𝐦𝐚𝐧 𝐍𝐀𝐓𝐎 𝐝𝐢 𝐘𝐮𝐠𝐨𝐬𝐥𝐚𝐯𝐢𝐚 / 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐀𝐥𝐥𝐢𝐞𝐝 𝐅𝐨𝐫𝐜𝐞 (𝟏𝟗𝟗𝟗)
B-52 dikerahkan dari pangkalan udara di Inggris untuk meluncurkan rudal jelajah konvensional. Misi ini bertujuan melumpuhkan infrastruktur militer dan sistem pertahanan udara Serbia guna menghentikan kampanye pembersihan etnis di Kosovo.
𝟒. 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐟𝐠𝐡𝐚𝐧𝐢𝐬𝐭𝐚𝐧 / 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐄𝐧𝐝𝐮𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐅𝐫𝐞𝐞𝐝𝐨𝐦 (𝟐𝟎𝟎𝟏)
Dukungan Udara Jarak Dekat (CAS): Peran B-52 bergeser drastis di era ini. Berkat adopsi teknologi GPS dan pod penargetan modern, B-52 mampu bertahan lama (loiter) di ketinggian tinggi dan menjatuhkan bom pintar presisi seperti JDAM untuk menghancurkan lini pertahanan serta kompleks bunker pegunungan Taliban.




𝟓. 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐈𝐒𝐈𝐒 𝐝𝐢 𝐈𝐫𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐮𝐫𝐢𝐚𝐡 (𝟐𝟎𝟏𝟔)
Setelah absen selama satu dekade di Timur Tengah, B-52 kembali dikerahkan dan menerbangkan sekitar 1.800 sorti penerbangan tempur guna melancarkan serangan presisi yang berkontribusi besar pada runtuhnya kekuatan wilayah ISIS di kawasan tersebut.
𝟔. 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐄𝐩𝐢𝐜 𝐅𝐮𝐫𝐲 𝐝𝐢 𝐈𝐫𝐚𝐧 (𝟐𝟎𝟐𝟔)
Kampanye Terbaru: Di bawah komando U.S. Central Command (USCENTCOM), armada B-52 dikerahkan bersama pembom B-1B dan B-2 Spirit. Dalam misi pembuka, pembom-pembom ini menggempur lebih dari 1.700 target pertahanan udara , fasilitas rudal balistik, dan pos komando di Iran dalam kurun waktu kurang dari 100 jam.
#bomber #pembom #airforce #usaf