Tampilkan postingan dengan label kopasandha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopasandha. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2026

P𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐰𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐫𝐢𝐬𝐦𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

 Pada tanggal 28 Maret 1981, 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐰𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐫𝐢𝐬𝐦𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 yang menimpa pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-206 dari Jakarta menuju Medan dan sempat transit di Palembang sebelum akhirnya dibajak di udara dan akhirnya mendarat di Bangkok, Thailand. Pesawat tersebut adalah jenis McDonnell Douglas DC-9 yang diberi nama "𝐖𝐨𝐲𝐥𝐚".



𝑃𝑒𝑚𝑏𝑎𝑗𝑎𝑘𝑎𝑛 dilakukan oleh lima orang bers3nj4t4 dari kelompok ekstremis yang menamakan diri mereka "Komando Jihad" (atau anggota Jamaah Imran).
𝑇𝑢𝑛𝑡𝑢𝑡𝑎𝑛: Para pelaku memaksa pesawat dialihkan ke Penang (Malaysia) lalu ke Bangkok (Thailand). Mereka menuntut pembebasan 80 tahanan politik, uang tebusan sebesar 1,5 juta dolar AS, pengusiran warga Israel dari Indonesia, dan pencopotan Wakil Presiden Adam Malik.
Drama pembajakan ini berlangsung selama 65 jam sebelum akhirnya dilumpuhkan melalui serbuan kilat oleh pasukan khusus 𝑲𝒐𝒑𝒂𝒔𝒔𝒂𝒏𝒅𝒉𝒂 (sekarang Kopassus) di Bandara Don Muang, Bangkok, pada 31 Maret 1981.

Pasukan Kopasandha menggunakan strategi penyerbuan kilat yang sangat terencana untuk membebaskan sandera (48 Penumpang, 5 awak kabin)

𝑃𝑒𝑛𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑆𝑒𝑛𝑦𝑎𝑝: Pasukan mendekati pesawat pada pukul 02.45 dini hari di bawah kegelapan malam agar tidak terdeteksi oleh para pembajak.

𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑏𝑢𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑚𝑢𝑙𝑡𝑎𝑛: Tim dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menyerbu dari tiga titik masuk secara bersamaan guna memecah konsentrasi pembajak:

Pintu Darurat (tengah, diatas sayap): Menggunakan tangga darurat untuk masuk dengan cepat.
Pintu Belakang: Menyerbu melalui bagian belakang pesawat.
Pintu Depan/Pilot: Memastikan kendali di area kokpit segera diambil alih.
Pasukan menggunakan alat khusus untuk mendobrak pintu pesawat dengan keras dan cepat agar memberikan efek kejut (shock effect) kepada para pembajak.
Segera setelah masuk, pasukan meneriakkan instruksi agar seluruh penumpang tiarap di lantai pesawat. Hal ini dilakukan untuk memisahkan sandera dari pembajak yang tetap berdiri atau memegang senjata.
Seluruh operasi pelumpuhan pembajak dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, yakni sekitar 2 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 49 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 hingga 3 menit. Ketegasan dan kecepatan ini mencegah pembajak meledakkan granat atau membunuh sandera lebih banyak.



Operasi ini memakan dua korban jiwa dari tim penyerbu, yaitu Letnan (Anumerta) Achmad Kirang dan Kapten Pilot Herman Rante.


Tidak ada korban jiwa dari kalangan penumpang selama operasi pembebasan berlangsung.

𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫ae𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 - 15 Mei 1948

  Hari ini, 78 tahun lalu. Awal 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫43𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 meletus secara resmi pada tanggal 𝟏𝟓 𝐌𝐞𝐢 𝟏𝟗𝟒𝟖, tepa...