Rabu, 10 Juni 2026

𝐌𝟏𝟎𝟗𝐀𝟒𝐁𝐄 𝟏𝟓𝟓 𝐦𝐦 𝒔𝒆𝒍𝒇-𝒑𝒓𝒐𝒑𝒆𝒍𝒍𝒆𝒅 𝒉𝒐𝒘𝒊𝒕𝒛𝒆𝒓 TNI AD

 𝐌𝟏𝟎𝟗𝐀𝟒𝐁𝐄 𝟏𝟓𝟓 𝐦𝐦 adalah sebuah sistem artileri medan swagerak (𝒔𝒆𝒍𝒇-𝒑𝒓𝒐𝒑𝒆𝒍𝒍𝒆𝒅 𝒉𝒐𝒘𝒊𝒕𝒛𝒆𝒓) beroda rantai kaliber 155 mm buatan Amerika Serikat yang telah dimodifikasi dan ditingkatkan kemampuannya oleh negara Belgia. Kode "BE" pada nama tersebut merujuk pada standar spesifikasi Angkatan Darat Belgia (Belgium).


𝐅𝐢𝐭𝐮𝐫 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐤𝐧𝐢𝐬
M109A4BE merupakan hasil peremajaan (upgrade) dari basis varian terdahulu seperti M109A2/A3. Beberapa peningkatan teknologi krusial pada varian ini meliputi:
Sistem Pemuat Semi-Otomatis (Semi-Automatic Loader): Dilengkapi penarik mekanis yang meningkatkan kecepatan tembak hingga 3 peluru dalam 20 detik pertama.
Perlindungan NBC: Proteksi kru yang terintegrasi terhadap ancaman Nuklir, Biologi, dan Kimia.
Keandalan Mekanis (RAM): Pembaruan sistem hidrolik putaran kubah, kelistrikan alternator 180 amp, dan penambahan mesin genset generator (APU) sebesar 1,2 Kw.


𝐒𝐩𝐞𝐬𝐢𝐟𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐓𝐞𝐤𝐧𝐢𝐬
Kaliber Laras: 155 mm / 39 caliber (Laras M185).
Jarak Tembak Jangkauan: Jarak efektif sekitar 18,5 km untuk amunisi konvensional dan bisa mencapai hingga 30 km jika menggunakan amunisi berbantuan roket (Rocket Assisted Projectile / RAP).
Mobilitas: Digerakkan oleh mesin Detroit Diesel Turbo dengan kecepatan jalan raya maksimum mencapai 64 km/jam.
Jumlah Awak: Dioperasikan oleh 6 personel (Komandan, pengemudi, penembak, asisten penembak, dan 2 kru pemuat amunisi).
Artileri jenis ini sangat efektif untuk memberikan bantuan tembakan tidak langsung jarak jauh guna menghancurkan pertahanan musuh maupun mematikan kendaraan lapis baja lawan di medan tempur.


𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 (𝐀𝐬𝐚𝐥-𝐮𝐬𝐮𝐥 𝐒𝐢𝐥𝐬𝐢𝐥𝐚𝐡)
Pengembangan alutsista ini melewati tiga fase penting dari Amerika Serikat hingga ke Belgia:
Awal Mula di Amerika Serikat: Basis utama kendaraan ini adalah M109, artileri swagerak beroda rantai yang pertama kali dikembangkan oleh Amerika Serikat pada awal dekade 1960-an untuk menggantikan varian M44. AS kemudian merilis varian penyempurnaan M109A2 dan M109A3 pada era 1970 hingga 1980-an dengan laras M185 yang lebih panjang.
Pembelian oleh Belgia: Pada kurun waktu 1984–1985, Pemerintah Belgia membeli sejumlah unit meriam standar M109A2/A3 dari Amerika Serikat untuk memperkuat angkatan darat mereka.
Program Modernisasi Belgia (2007–2008): Memasuki pertengahan dekade 2000-an, militer Belgia melakukan modernisasi besar-besaran terhadap armada M109 miliknya. Hasil peremajaan ini melahirkan varian khusus berkode M109A4BE. Peningkatan mencakup pemasangan sistem kelistrikan baru, mesin generator (APU), perlindungan perang Nuklir-Biologi-Kimia (NBC), hingga perbaikan mekanisme pengisian peluru semi-otomatis guna mempercepat laju tembakan.


𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐃
Belgia memutuskan memensiunkan sebagian armada artileri beratnya. Peluang ini diambil oleh Indonesia untuk memodernisasi Korps Artileri Medan (Armed).
Pemerintah Indonesia (2016) secara resmi menyepakati pembelian alutsista bekas layak pakai (surplus) milik Angkatan Darat Belgia. Total pengadaan mencakup 36 unit meriam M109A4BE, lengkap dengan beberapa unit kendaraan pos komando (Command Post) serta kendaraan derek pemulihan (Armored Recovery Vehicle / ARV).
Pengiriman dilakukan secara bertahap lewat jalur laut menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta:
Gelombang I (Juli 2017): Tiba sebanyak 18 unit meriam.
Gelombang II (Juli 2018): Tiba sebanyak 18 unit meriam tambahan beserta kendaraan pendukungnya.
Setelah tiba di tanah air, seluruh unit meriam ini langsung masuk ke jajaran kedinasan Angkatan Darat. Alutsista ini didistribusikan untuk memperkuat satuan pemukul taktis pertahanan, di antaranya ditempatkan di bawah Batalyon Artileri Medan 7/Biring Galih (Yonarmed 7/155 SPH) yang berada di bawah komando Kodam Jaya, serta Batalyon Artileri Medan 10/Bradjamusti (Yonarmed 10/155 SPH) di bawah Divisi Infanteri 1/Kostrad.
#meriam #howitzer #artileri #tni



Tidak ada komentar:

Posting Komentar