Tampilkan postingan dengan label airforce. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label airforce. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

𝐒𝐡𝐞𝐧𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐉-𝟏𝟏 (𝐉𝐢𝐚𝐧-𝟏𝟏), SU-27 Versi Tiongkok

 𝐒𝐡𝐞𝐧𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐉-𝟏𝟏 (𝐉𝐢𝐚𝐧-𝟏𝟏) adalah pesawat tempur superioritas udara bermesin ganda buatan China yang dikembangkan oleh Shenyang Aircraft Corporation. Pesawat generasi keempat ini pada awalnya merupakan varian rakitan lisensi dari pesawat Sukhoi Su-27SK Rusia, yang kemudian dimodifikasi dan diproduksi secara mandiri menggunakan avionik dan persenjataan buatan dalam negeri.


𝑺𝒆𝒋𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝑽𝒂𝒓𝒊𝒂𝒏 𝑱-11
Awalnya, China membeli lisensi dari Rusia pada tahun 1995 untuk memproduksi 200 unit Su-27SK. Namun, di tengah jalan China membatalkannya setelah merakit sekitar 100 unit karena mereka ingin menggunakan sistem avionik dan radar buatan mereka sendiri. Dari langkah inilahirlah varian yang sepenuhnya dikembangkan secara lokal, yakni J-11B.

𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊
Varian awal (J-11A) menggunakan komponen Rusia, sedangkan varian modern (J-11B/BG) sepenuhnya menggunakan teknologi domestik China.
Berikut adalah spesifikasi teknis utama J-11 (berbasis varian standar J-11B):
Karakteristik FisikKru: 1 orang (atau 2 orang untuk varian latih/tempur J-11BS)
Berat Lepas Landas Maksimum (MTOW): 33.000 kg
Mesin: 2 × Shenyang WS-10A Taihang turbofan (varian J-11A menggunakan mesin Rusia Saturn AL-31F)
Kecepatan Maksimum: Mach 2,25 (sekitar 2.500 km/jam di ketinggian)
Radius Tempur: 1.500 km tanpa isi bensin di udara
Jangkauan Jauh (Jarak Feri): 3.530 km
Ketinggian Maksimum: 19.000 meter (62.500 kaki)
Laju Tanjak: 300 m/detik


𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒋𝒂𝒕𝒂𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑺𝒆𝒏𝒋𝒂𝒕𝒂
J-11 memiliki 10 titik cantelan (hardpoints) di badan dan sayapnya untuk membawa total beban senjata hingga 8.000 kg, yang meliputi:
Kanon Internal: 1 × kanon otomatis GSh-30-1 kaliber 30 mm (dengan 150 peluru).
Rudal Udara-ke-Udara:
J-11A: Rudal Rusia R-77 (jarak menengah) dan R-73 (jarak dekat).
J-11B/BG: Rudal China PL-12 atau PL-15 (jarak jauh berpemandu radar aktif) dan PL-8 atau PL-10 (jarak dekat inframerah).
Bom & Roket: Berbagai jenis bom pintar berpemandu laser/satelit (KAB-500 atau tipe LT China) serta peluncur roket tak berpemandu untuk serangan darat.

𝑨𝒗𝒊𝒐𝒏𝒊𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝑹𝒂𝒅𝒂𝒓
Radar J-11B: Menggunakan radar Pulse-Doppler Type 1493 buatan China yang mampu melacak hingga 20 target udara sekaligus dan menyerang 4 di antaranya secara bersamaan.
Radar J-11BG (Modernisasi): Menggunakan radar canggih modern AESA (Active Electronically Scanned Array) yang tahan terhadap gangguan elektronik (jamming) dan memiliki jarak deteksi jauh lebih luas.
Sistem Optik: Dilengkapi perangkat sensor elektro-optik (IRST) di depan kokpit untuk melacak pesawat musuh melalui panas mesin tanpa menyalakan radar (mode senyap).


Satu-satunya negara yang sudah menggunakan jet tempur Shenyang J-11 saat ini adalah China (Tiongkok), dengan total sekitar 300 hingga 400 unit.
Jet tempur ini tidak diekspor ke negara lain dan tidak ada negara lain yang berencana menggunakannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan utama :
Perjanjian Lisensi dengan Rusia: J-11 lahir dari lisensi pesawat buatan Rusia, yaitu Sukhoi Su-27SK. Berdasarkan kesepakatan awal dengan Sukhoi, China dilarang mengekspor platform tiruan berbasis seri Flanker ini ke pasar internasional guna menghindari persaingan langsung dengan jet tempur asli buatan Rusia.
Prioritas Pertahanan Domestik: Varian J-11 (terutama J-11B dan J-11D) dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan perang superioritas udara Angkatan Udara (PLAAF) dan Angkatan Laut (PLANAF) China sendiri.
#pesawattempur #airforce #angkatanudara

Selasa, 23 Juni 2026

𝐓𝐮-𝟏𝟔𝟎𝐌 𝐑𝐮𝐬𝐢𝐚 vs 𝐁-𝟏𝐁 𝐋𝐚𝐧𝐜𝐞𝐫 𝐀𝐦𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚 𝐒𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐭

 Meskipun memiliki desain visual yang sangat mirip dengan sayap sapuan variabel (swing-wing), 𝐓𝐮-𝟏𝟔𝟎𝐌 𝐑𝐮𝐬𝐢𝐚 jauh lebih besar, lebih cepat, dan mempertahankan kemampuan nuklir strategis, sedangkan 𝐁-𝟏𝐁 𝐋𝐚𝐧𝐜𝐞𝐫 𝐀𝐦𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚 𝐒𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐭 berukuran lebih kecil, lebih lambat, dan telah dimodifikasi sepenuhnya untuk misi konvensional non-nuklir.Tu-160 dirancang sebagai platform peluncur rudal jelajah jarak jauh berhulu ledak nuklir yang menembak dari jarak aman, sementara B-1B Lancer awalnya dibuat untuk penetrasi udara supersonik rendah, namun kini bertugas menjatuhkan bom pintar konvensional di area konflik.


Berikut adalah rincian perbedaan utama antara kedua pesawat pengebom berat supersonik tersebut:

𝐏𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐩𝐞𝐬𝐢𝐟𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐤 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚
𝑼𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏 & 𝑩𝒐𝒃𝒐𝒕
Tupolev Tu-160M : Jauh lebih besar; berat lepas landas maksimum mencapai lebih dari 275.000 kg.
Rockwell B-1B Lancer : Lebih kecil; berat lepas landas maksimum sekitar 216.000 kg.
𝑲𝒆𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒖𝒎
Tupolev Tu-160M : Mencapai Mach 2.05 (Sangat supersonik di ketinggian).
Rockwell B-1B Lancer :Dibatasi hingga Mach 1.25 (Dioptimalkan untuk kecepatan rendah dekat tanah).
Tu-160M


𝑲𝒆𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝑵𝒖𝒌𝒍𝒊𝒓
Tupolev Tu-160M : Masih mempertahankan opsi nuklir (Membawa rudal jelajah nuklir Kh-102).
Rockwell B-1B Lancer : Sama sekali tidak memiliki kemampuan nuklir (Hanya senjata konvensional sejak traktat START).
𝑷𝒆𝒓𝒂𝒏 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂
Tupolev Tu-160M : Stand-off Missile Carrier (Meluncurkan rudal dari wilayah aman).
Rockwell B-1B Lancer : Tactical/Strategic Penetrator (Pengeboman presisi konvensional langsung).
𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑲𝒓𝒖 : semua pesawat 4 personel
B1B LANCER



𝑷𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂𝒂𝒏 𝑭𝒊𝒍𝒐𝒔𝒐𝒇𝒊 𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍𝑫𝒊𝒎𝒆𝒏𝒔𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏: Tu-160M (dijuluki White Swan) memiliki bodi 20% lebih besar daripada B-1B Lancer. Mesin Tu-160M jauh lebih bertenaga, memungkinkannya melesat dua kali kecepatan suara (Mach 2) untuk melarikan diri setelah meluncurkan rudal. Sebaliknya, B-1B Lancer mengorbankan kecepatan tinggi demi desain radar cross-section (RCS) yang lebih kecil agar lebih sulit dideteksi radar musuh.
𝑱𝒆𝒏𝒊𝒔 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒋𝒂𝒕𝒂𝒂𝒏: Tu-160M mengandalkan peluncur berputar internal (rotary launcher) yang membawa rudal jelajah jarak jauh seperti Kh-101 (konvensional) dan Kh-102 (nuklir). B-1B Lancer memiliki kapasitas muatan internal yang lebih fleksibel untuk membawa hingga 24 bom pintar berpemandu satelit (JDAM), bom konvensional, atau rudal anti-kapal jarak jauh.
𝑴𝒐𝒅𝒆𝒓𝒏𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊: Varian Tu-160M merupakan versi peningkatan terbaru dari Rusia yang dilengkapi dengan mesin NK-32-02 baru, avionik digital penuh, dan sistem pertahanan radar modern. Sementara itu, armada B-1B Lancer milik Angkatan Udara AS (USAF) terus mengalami pembaruan sistem radar dan integrasi senjata konvensional mutakhir, meskipun direncanakan akan pensiun secara bertahap saat pembom siluman masa depan B-21 Raider mulai beroperasi penuh.
#pembom #bomber #airforce

Selasa, 23 Desember 2025

Kekuatan Udara Indonesia di Masa Orde Lama terkuat di belahan bumi Selatan

 Pada masa Orde Lama (1945–1967), Indonesia membangun kekuatan udara yang sangat signifikan, terutama melalui bantuan militer dari Uni Soviet untuk mendukung Operasi Trikora dan Dwikora.

Berikut adalah daftar pesawat tempur Indonesia pada masa tersebut beserta perkiraan jumlah unit dan tahun digunakannya: 𝟏. 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 𝐉𝐞𝐭 (𝐅𝐢𝐠𝐡𝐭𝐞𝐫) 𝑴𝒊𝒌𝒐𝒚𝒂𝒏-𝑮𝒖𝒓𝒆𝒗𝒊𝒄𝒉 𝑴𝒊𝑮-21 (𝑭𝒊𝒔𝒉𝒃𝒆𝒅): Pesawat pencegat supersonik tercanggih AURI saat itu. Jumlah: 20 unit (varian F-13). Tahun: Mulai tiba tahun 1962 dan aktif hingga akhir 1960-an.
𝑴𝒊𝒌𝒐𝒚𝒂𝒏-𝑮𝒖𝒓𝒆𝒗𝒊𝒄𝒉 𝑴𝒊𝑮-19 (𝑭𝒂𝒓𝒎𝒆𝒓): Jet tempur supersonik untuk peran buru sergap. Jumlah: 10 unit. Tahun: Digunakan sekitar awal 1961.
𝑴𝒊𝒌𝒐𝒚𝒂𝒏-𝑮𝒖𝒓𝒆𝒗𝒊𝒄𝒉 𝑴𝒊𝑮-17 (𝑭𝒓𝒆𝒔𝒄𝒐): Tulang punggung kekuatan udara Indonesia. Jumlah: 49 unit (varian F dan PF). Tahun: Mulai tiba pada 1958-1959 dan aktif selama masa Trikora.
𝑴𝒊𝒌𝒐𝒚𝒂𝒏-𝑮𝒖𝒓𝒆𝒗𝒊𝒄𝒉 𝑴𝒊𝑮-15 𝑼𝑻𝑰: Digunakan sebagai pesawat latih tempur jet. Jumlah: 30 unit. Tahun: Digunakan sejak akhir 1950-an.
𝟐. 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐛𝐨𝐦 (𝐁𝐨𝐦𝐛𝐞𝐫) 𝑻𝒖𝒑𝒐𝒍𝒆𝒗 𝑻𝒖-16 (𝑩𝒂𝒅𝒈𝒆𝒓): Pesawat pengebom strategis jarak jauh. Jumlah: 26 unit (terdiri dari 14 unit Tu-16 varian B/standar dan 12 unit Tu-16KS yang membawa rudal anti-kapal). Tahun: Tiba mulai 1961 dan aktif hingga 1970.
𝑰𝒍𝒚𝒖𝒔𝒉𝒊𝒏 𝑰𝒍-28 (𝑩𝒆𝒂𝒈𝒍𝒆): Pesawat pengebom taktis bermesin jet. Jumlah: 22 unit. Tahun: Digunakan sejak 1958 hingga 1970.
𝑵𝒐𝒓𝒕𝒉 𝑨𝒎𝒆𝒓𝒊𝒄𝒂𝒏 𝑩-25 𝑴𝒊𝒕𝒄𝒉𝒆𝒍𝒍: Pesawat pengebom menengah peninggalan pasca-PD II. Jumlah: Sekitar 18 unit awal (hasil penyerahan kedaulatan Belanda). Tahun: Digunakan sejak 1950 hingga akhir 1960-an.
𝟑. 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠-𝐁𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 (𝐏𝐫𝐨𝐩𝐞𝐥𝐥𝐞𝐫) 𝑵𝒐𝒓𝒕𝒉 𝑨𝒎𝒆𝒓𝒊𝒄𝒂𝒏 𝑷-51 𝑴𝒖𝒔𝒕𝒂𝒏𝒈: Pesawat tempur legendaris yang menjadi andalan awal AURI. Jumlah: Sekitar 26–30 unit. Tahun: Digunakan sejak 1950 (penyerahan kedaulatan) hingga awal 1970-an.
𝑫𝒐𝒖𝒈𝒍𝒂𝒔 𝑩-26 𝑰𝒏𝒗𝒂𝒅𝒆𝒓: Pesawat pengebom ringan/serang darat. Jumlah: Sekitar 6 unit (awal penyerahan Belanda). Tahun: Digunakan sejak 1950 untuk penumpasan berbagai pemberontakan (seperti PRRI/Permesta).
𝑳𝒂𝒗𝒐𝒄𝒉𝒌𝒊𝒏 𝑳𝒂-11: Pesawat tempur buatan Uni Soviet. Jumlah: Sekitar 14 unit. Tahun: Digunakan singkat pada pertengahan 1950-an.
𝟒. 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐋𝐚𝐭𝐢𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 𝑨𝒆𝒓𝒐 𝑳-29 𝑫𝒆𝒍𝒇𝒊𝒏: Jet latih buatan Cekoslowakia. Jumlah: Sekitar 18–20 unit. Tahun: Mulai digunakan tahun 1965.
Kekuatan ini menjadikan Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di Belahan Bumi Selatan pada masa itu, khususnya selama periode 1961–1965.

Senin, 22 Desember 2025

Pesawat Tempur Lengendaris F-14 Tomcat

 𝑭-14 𝑻𝒐𝒎𝒄𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒍𝒆𝒈𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒊𝒔 karena kombinasi desain sayap sapu yang ikonik, kemampuan pencegat jarak jauh dengan radar dan rudal Phoenix yang canggih, peran utamanya dalam film Top Gun, serta statusnya sebagai simbol kekuatan udara Angkatan Laut AS selama Perang Dingin. Pesawat ini menawarkan performa superioritas udara yang luar biasa pada masanya, menjadikannya mesin tempur yang tangguh dan dihormati, meskipun tidak memiliki banyak kemenangan udara dalam pertempuran langsung.


𝐷𝑒𝑠𝑎𝑖𝑛 𝑆𝑎𝑦𝑎𝑝 𝑆𝑎𝑝𝑢 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙 (𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑙𝑒-𝑆𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑊𝑖𝑛𝑔𝑠): Sayapnya bisa melipat ke belakang untuk kecepatan tinggi dan membentang untuk manuver lambat, memberikan fleksibilitas luar biasa di berbagai kondisi penerbangan, terutama saat lepas landas dan mendarat di kapal induk.


𝑆𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝑅𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝐶𝑎𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ: Dilengkapi radar Hughes AWG-9 yang sangat besar dan mampu melacak puluhan target sekaligus, serta rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix, menjadikannya pencegat armada yang sangat efektif.
𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛 "𝐺𝑢𝑎𝑟𝑑𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑜𝑓 𝑡ℎ𝑒 𝐹𝑙𝑒𝑒𝑡": Dirancang untuk melindungi kapal induk dari serangan pesawat pembom jarak jauh, F-14 mampu terbang jauh dan menyerang musuh dari jarak yang sangat jauh.

𝐼𝑘𝑜𝑛 𝐵𝑢𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑒𝑟 (𝑇𝑜𝑝 𝐺𝑢𝑛): Perannya dalam film Top Gun (1986) mengangkat F-14 menjadi simbol kehebatan penerbangan tempur dan membuatnya dikenal luas di seluruh dunia.

** Pesawat Tempur Era Perang Dingin:** Menjadi tulang punggung superioritas udara Angkatan Laut AS selama puncak Perang Dingin, mewakili era keemasan penerbangan tempur dari dek kapal induk.
** Kehadiran yang Terus Berlanjut di Iran:** Meskipun dipensiunkan oleh AS, Iran terus menerbangkan armada F-14 mereka hingga saat ini, membuktikan ketangguhan dan keandalan desainnya meski telah tua.


F-14 Tomcat bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang aura dan kisahnya yang menjadikannya salah satu pesawat tempur paling ikonik dan tak terlupakan dalam sejarah penerbangan.


*Miniature metal diecast model pesawat tempur F-14, bisa dibeli di toko online kami : https://tk.tokopedia.com/ZSPGSjHuc/

Perbedaan Pesawat Tempur Generasi 1 sampai generasi 4

 Perbedaan utama antara pesawat tempur generasi 1 hingga generasi 4 terletak pada evolusi kecepatan, sistem avionik, dan kemampuan persenjataannya:

- 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝟏 (𝐄𝐫𝐚 𝐏𝐚𝐬𝐜𝐚-𝐏𝐃 𝐈𝐈 - 𝟏𝟗𝟓𝟎-𝐚𝐧)
Pesawat jet awal yang menggantikan mesin baling-baling. Karakteristik utamanya adalah kecepatan subsonik, desain sayap lurus atau sedikit menyapu, dan belum dilengkapi radar canggih. Persenjataan utamanya masih berupa senapan mesin atau kanon konvensional tanpa kendali.
Contoh: MiG-15, F-86 Sabre.
F-86 Sabre

Mig-15 Fagot

- 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝟐 (𝐏𝐞𝐫𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡𝐚𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟎-𝐚𝐧 - 𝟏𝟗𝟔𝟎-𝐚𝐧)

Fokus utama pada pencapaian kecepatan supersonik dan penggunaan radar awal. Pesawat mulai dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara berpemandu inframerah (pencari panas) sederhana. Desain sayap menyapu tajam atau delta menjadi standar untuk mendukung kecepatan tinggi.
Contoh: MiG-21, F-104 Starfighter.
F-104 Starfighter

Mig-21 Fishbed


- 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝟑 (𝟏𝟗𝟔𝟎-𝐚𝐧 - 𝟏𝟗𝟕𝟎-𝐚𝐧)

Ditandai dengan munculnya kemampuan Beyond Visual Range (BVR), yaitu kemampuan menyerang lawan dari jarak jauh sebelum terlihat oleh mata. Pesawat generasi ini memiliki radar pulsa yang lebih kuat dan mampu membawa berbagai jenis rudal serta bom. Fokus desain bergeser dari sekadar kecepatan menjadi pesawat multi-peran (pencegat dan serangan darat).
Contoh: F-4 Phantom II, MiG-23.
F-4 PhantomII

Mig-23 Flogger

- 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝟒 (𝟏𝟗𝟕𝟎-𝐚𝐧 - 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫 𝟏𝟗𝟖𝟎-𝐚𝐧)

Menekankan pada kelincahan dan manuver ekstrem melalui sistem kendali elektronik fly-by-wire. Pesawat ini dilengkapi dengan tampilan informasi di depan mata (Heads-Up Display/HUD) dan avionik canggih yang terintegrasi. Kemampuan multi-peran menjadi semakin optimal untuk berbagai misi tempur.
Contoh: F-16 Fighting Falcon, F-15 Eagle, MiG-29, Su-27.
SU-27 dan F-15


Untuk perbedaan generasi 4-5 sudah saya tuliskan pada tulisan saya sebelumnya.

Kamis, 11 Desember 2025

𝑫𝒓𝒐𝒏𝒆 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝑨𝑵𝑲𝑨 (𝑼𝑨𝑽) 𝑰𝑵𝑫𝑶𝑵𝑬𝑺𝑰𝑨

 Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan, telah menandatangani kontrak untuk pengadaan 12 unit drone tempur ANKA (UAV) dari Turkish Aerospace Industries (TAI) senilai sekitar US$300 juta (sekitar Rp 4,53 triliun).


Drone ANKA-S adalah jenis kendaraan udara nirawak ketinggian sedang, daya tahan panjang (Medium Altitude Long Endurance/MALE), yang mampu terbang hingga 30 jam pada ketinggian 9.100 meter dan memiliki jangkauan sekitar 250 kilometer. Pesawat ini akan digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), serta kemampuan serangan presisi.
Kontrak pembelian ditandatangani pada tanggal 3 Februari 2023, dan diumumkan secara resmi pada Juli-Agustus 2023.

Jumlah dan Distribusi: Total 12 unit drone dibeli untuk memperkuat ketiga matra TNI:
TNI Angkatan Udara (AU): 6 unit.
TNI Angkatan Darat (AD): 3 unit.
TNI Angkatan Laut (AL): 3 unit.
Skema Produksi dan Transfer Teknologi (ToT) :
6 unit pertama akan diproduksi dan dikirim langsung dari Turki.
6 unit sisanya akan dirakit di Indonesia oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai bagian dari program transfer teknologi. Program ini juga mencakup pembangunan fasilitas perakitan akhir (Final Assembly Line) dan kemampuan pemeliharaan, perbaikan, serta pengoperasian di PTDI.

Pengiriman seluruh 12 unit akan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu 32 bulan.
Unit pertama dari drone ANKA-S dilaporkan telah tiba di Indonesia, terlihat di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, pada September-Oktober 2025.