Tampilkan postingan dengan label alutsista. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alutsista. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2026

ALUTSISTA - 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐥𝐲𝐨𝐧 𝐙𝐞𝐧𝐢 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 (𝐘𝐨𝐧𝐳𝐢𝐩𝐮𝐫) 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐃

𝐁𝐚𝐭𝐚𝐥𝐲𝐨𝐧 𝐙𝐞𝐧𝐢 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 (𝐘𝐨𝐧𝐳𝐢𝐩𝐮𝐫) 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐃 memiliki berbagai Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) yang dirancang khusus untuk mendukung rekayasa teknik militer di medan tempur, seperti pembangunan jembatan, penjinakan bahan peledak, hingga pembersihan rintangan jalan.
Daftar alutsista utama yang dimiliki oleh Batalyon Zeni Tempur TNI AD :
𝐊𝐞𝐧𝐝𝐚𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐥𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧
M3 Amphibious Rig (Ponton): Kendaraan amfibi modern yang dapat berfungsi sebagai jembatan ponton atau kapal feri untuk menyeberangkan tank berat sekelas MBT Leopard.


Medium Girder Bridge (MGB): Sistem jembatan taktis yang dapat dirakit dengan cepat untuk mengatasi rintangan sungai atau celah di medan perang.



𝐊𝐞𝐧𝐝𝐚𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐓𝐞𝐤𝐧𝐢𝐤 (𝐏𝐢𝐨𝐧𝐢𝐫)
Pionierpanzer 2Ri Dachs: Kendaraan zeni tempur berbasis sasis tank Leopard yang dilengkapi dengan backhoe dan alat pengeruk (dozer) untuk membersihkan hambatan atau membuat perlindungan.


Treva-15: Kendaraan pemulihan berat (Heavy Duty Recovery Vehicle) yang digunakan untuk menarik atau mengevakuasi alutsista lain yang rusak di medan sulit.

Excavator & Backhoe Loader: Alat berat standar zeni yang dimodifikasi untuk kebutuhan militer guna konstruksi lapangan dan pembersihan material.
𝐏𝐞𝐫𝐚𝐥𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐣𝐢𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐥𝐞𝐝𝐚𝐤 (𝐉𝐢𝐡𝐚𝐧𝐝𝐚𝐤)
Unit Mobil Jihandak: Kendaraan operasional yang membawa perlengkapan khusus untuk mendeteksi dan menjinakkan bom atau ranjau.
Robot Jihandak (EOD Robot): Perangkat kendali jarak jauh yang digunakan untuk mendekati objek mencurigakan tanpa membahayakan nyawa prajurit.

𝐏𝐞𝐫𝐚𝐥𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚
Unit Mobil Reverse Osmosis (RO): Fasilitas pengolah air bergerak yang mampu mengubah air kotor menjadi air layak minum untuk kebutuhan pasukan di garis depan.
Truck Dapur Lapangan :
Truk Pengangkut (Tatra 8x8): Kendaraan logistik berat yang digunakan untuk mengangkut material jembatan atau peralatan zeni lainnya di berbagai medan.

Selasa, 24 Februari 2026

Alutsista TNI AL pada awal ORDE Baru

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐋 melakukan pergeseran besar dengan mempensiunkan kapal-kapal besar buatan Uni Soviet (seperti Penjelajah KRI Irian) yang sulit dirawat karena hambatan suku cadang. Fokus pengadaan beralih ke kapal-kapal Barat yang lebih efisien dan modern.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli untuk TNI AL pada periode tersebut:
1. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑭𝒓𝒆𝒈𝒂𝒕 & 𝑲𝒐𝒓𝒗𝒆𝒕 (Satuan Kapal Eskorta)
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑙𝑎𝑢𝑑 𝐽𝑜𝑛𝑒𝑠 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑑𝑖𝑘𝑢𝑛): Dibeli bekas dari Amerika Serikat pada tahun 1973-1974. Kapal-kapal ini menjadi tulang punggung baru setelah era Soviet berakhir. Contohnya: KRI Samadikun (341), KRI Martadinata (342), KRI Monginsidi (343), dan KRI Ngurah Rai (344).
KRI Martadinata 342

KRI Samadikun 341
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑟𝑖𝑏𝑎𝑙: Dibeli dari Inggris pada akhir 1970-an (efektif masuk awal 80-an) untuk meningkatkan kemampuan tempur laut.
Tribal Class KRI Hasanudin 333


2. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎

𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑦𝑝𝑒 209 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑎𝑘𝑟𝑎): Kontrak pembelian dilakukan pada tahun 1977 dengan Jerman Barat untuk dua unit, yaitu KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402). Ini adalah langkah modernisasi radikal untuk menggantikan armada kapal selam kelas Whiskey buatan Soviet yang sudah tua.
KRI Nanggala 402


3. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑪𝒆𝒑𝒂𝒕 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 (𝑲𝑪𝑹) & 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑷𝒂𝒕𝒓𝒐𝒍𝒊

𝐾𝐶𝑅 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑃𝑆𝑀𝑀 𝑀𝑘5 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑀𝑎𝑛𝑑𝑎𝑢): Dibeli dari Korea Selatan (lisensi Tacoma, AS) pada akhir 1970-an. Kapal ini dilengkapi dengan rudal Exocet MM38 buatan Prancis, yang menandai dimulainya era rudal modern di TNI AL.
KRI Mandau 621


𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑃𝑎𝑡𝑟𝑜𝑙𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐴𝑡𝑡𝑎𝑐𝑘: Merupakan hibah dari Australia pada tahun 1973-1974 untuk memperkuat pengawasan wilayah perairan dan pantai.
Attack Class KRI Siada 862


4. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊 & 𝑳𝒐𝒈𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 (𝑺𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊)

𝐿𝑆𝑇 (𝐿𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑆ℎ𝑖𝑝 𝑇𝑎𝑛𝑘) 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑘 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎: Indonesia mulai memesan kapal angkut tank baru dari Korea Selatan pada akhir 1970-an untuk memperkuat mobilitas Marinir dan pasukan darat.
KRI Teluk Semangka 512


5. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑼𝒅𝒂𝒓𝒂 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑳𝒂𝒖𝒕 (𝑷𝒆𝒏𝒆𝒓𝒃𝒂𝒍)

𝑃𝑒𝑠𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑁𝑜𝑚𝑎𝑑 𝑁22/𝑁24: Dibeli dari Australia mulai tahun 1975 untuk tugas pengintaian maritim dan patroli wilayah.
Nomad N22


𝐻𝑒𝑙𝑖𝑘𝑜𝑝𝑡𝑒𝑟 𝑊𝑒𝑠𝑡𝑙𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑎𝑠𝑝: Didatangkan dari Inggris untuk melengkapi fregat-fregat baru (seperti kelas Tribal) guna keperluan anti-kapal selam (AKS).
Westland Wasp Helicopter



6. 𝑲𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒂𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝑴𝒂𝒓𝒊𝒏𝒊𝒓

AMX-10 pac 90 : Kendaraan pendarat amfibi dari Prancis yang mulai memperkuat Korps Marinir pada awal 1980-an.



AMX-10 PAC 90

Jumat, 30 Januari 2026

𝐂𝟒𝐈𝐒𝐑 - Pengatur jalannya pertempuran

 𝐂𝟒𝐈𝐒𝐑 adalah singkatan dari Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian). Ini adalah sistem terintegrasi yang berfungsi sebagai saraf pusat operasi militer modern untuk mengumpulkan data, memproses informasi, dan mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan presisi di medan tempur.

C4ISR Grumman


𝑩𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒓𝒊𝒏𝒄𝒊𝒂𝒏 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒐𝒏𝒆𝒏 𝑪4𝑰𝑺𝑹:
Command & Control (C2): Komando dan Kendali, merujuk pada hierarki dan prosedur untuk mengarahkan operasi.
Communications (C): Komunikasi, sistem pertukaran data dan informasi antar unit.
Computers (C): Komputer, infrastruktur pemrosesan data, perangkat keras, dan lunak.
Intelligence (I): Intelijen, hasil analisis informasi mengenai musuh dan lingkungan.
Surveillance (S): Pengawasan, pemantauan sistematis medan perang.
Reconnaissance (R): Pengintaian, pencarian informasi spesifik di lapangan.
C4ISR Lockheed

𝑭𝒖𝒏𝒈𝒔𝒊 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂 𝑪4𝑰𝑺𝑹:

Meningkatkan Kesadaran Situasional: Memberikan gambaran real-time tentang medan pertempuran.
Mempercepat Pengambilan Keputusan: Mengubah data mentah menjadi keputusan taktis dengan cepat.
Interoperabilitas: Memungkinkan koordinasi mulus antar unit, matra, maupun sekutu.
𝑫𝒊 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂, 𝑷𝑻 𝑳𝒆𝒏 𝑰𝒏𝒅𝒖𝒔𝒕𝒓𝒊 (𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒓𝒐) 𝒂𝒌𝒕𝒊𝒇 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒌𝒏𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒂𝒍𝒖𝒕𝒔𝒊𝒔𝒕𝒂 𝑻𝑵𝑰.
PT. LEN INDUSTRI

Sistem ini juga semakin banyak diadopsi dalam sektor sipil seperti manajemen lalu lintas kereta api dan bandara.

Menuju kemandirian 𝐈𝐧𝐝𝐮𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐚𝐥𝐮𝐭𝐬𝐢𝐬𝐭𝐚 (𝐀𝐥𝐚𝐭 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚) 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

 𝐈𝐧𝐝𝐮𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐚𝐥𝐮𝐭𝐬𝐢𝐬𝐭𝐚 (𝐀𝐥𝐚𝐭 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚) 𝐝𝐢 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam holding Defend ID serta didukung oleh berbagai Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yang terintegrasi di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan.


1. 𝑩𝒂𝒅𝒂𝒏 𝑼𝒔𝒂𝒉𝒂 𝑴𝒊𝒍𝒊𝒌 𝑵𝒆𝒈𝒂𝒓𝒂 (𝑯𝒐𝒍𝒅𝒊𝒏𝒈 𝑫𝒆𝒇𝒆𝒏𝒅 𝑰𝑫)
Holding ini dipimpin oleh PT Len Industri sebagai induk perusahaan untuk mengonsolidasikan kekuatan pertahanan nasional.
𝑃𝑇 𝐿𝑒𝑛 𝐼𝑛𝑑𝑢𝑠𝑡𝑟𝑖 (𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑟𝑜): Fokus pada elektronika pertahanan, sistem komunikasi, sistem komando dan kendali (C4ISR), serta sensor radar.

𝑃𝑇 𝑃𝑖𝑛𝑑𝑎𝑑 (𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑟𝑜): Spesialis platform matra darat, memproduksi senjata (seperti seri SS2), amunisi, serta kendaraan tempur seperti Tank Harimau, Anoa, dan kendaraan taktis Maung.

𝑃𝑇 𝐷𝑖𝑟𝑔𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎 (𝑃𝑇𝐷𝐼): Fokus pada matra udara, memproduksi pesawat angkut (CN-235, NC-212i), helikopter, serta terlibat dalam pengembangan jet tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan.

𝑃𝑇 𝑃𝐴𝐿 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎 (𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑟𝑜): Mengelola matra laut, memproduksi kapal perang seperti Kapal Cepat Rudal (KCR), kapal perusak kawal rudal (PKR/Frigate), kapal LPD, dan kapal selam.

𝑃𝑇 𝐷𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎 (𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑟𝑜): Fokus pada bahan energi tinggi (energetic materials), memproduksi bahan peledak untuk peluru, roket, serta rudal untuk seluruh matra.

2. 𝑰𝒏𝒅𝒖𝒔𝒕𝒓𝒊 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏𝒂𝒏 𝑺𝒘𝒂𝒔𝒕𝒂 (𝑩𝑼𝑴𝑺)

Terdapat lebih dari 100 perusahaan swasta yang mendukung ekosistem alutsista nasional, beberapa di antaranya yang terkemuka adalah:
𝑃𝑇 𝐿𝑢𝑛𝑑𝑖𝑛 𝐼𝑛𝑑𝑢𝑠𝑡𝑟𝑦 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡 (𝑁𝑜𝑟𝑡ℎ 𝑆𝑒𝑎 𝐵𝑜𝑎𝑡𝑠): Memproduksi kapal cepat dan kapal tempur berteknologi stealth (seperti KRI Klewang).

𝑃𝑇 𝑆𝑎𝑟𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑟𝑖: Memproduksi bom pesawat tempur dan munisi kaliber besar lainnya.

𝑃𝑇 𝐼𝑛𝑓𝑜𝑔𝑙𝑜𝑏𝑎𝑙 𝑇𝑒𝑘𝑛𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑠𝑡𝑎: Fokus pada avionik pesawat tempur dan sistem manajemen video militer.

𝑃𝑇 𝐻𝑎𝑟𝑖𝑓𝑓 𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝐸𝑛𝑔𝑖𝑛𝑒𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔: Pengembangan sistem komunikasi data taktis militer (BMS).
𝑃𝑇 𝐾𝑜𝑚𝑜𝑑𝑜 𝐴𝑟𝑚𝑎𝑚𝑒𝑛𝑡: Memproduksi senjata api dan munisi khusus.

3. 𝑲𝒐𝒎𝒑𝒐𝒏𝒆𝒏 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒖𝒌𝒖𝒏𝒈 𝑺𝒕𝒓𝒂𝒕𝒆𝒈𝒊𝒔

Pemerintah juga melibatkan industri bahan baku untuk mendukung kemandirian material:
𝑃𝑇 𝐾𝑟𝑎𝑘𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑆𝑡𝑒𝑒𝑙 (𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑟𝑜) 𝑇𝑏𝑘: Penyuplai baja khusus untuk lapisan baja (armor) kendaraan tempur dan kapal perang.

Jumat, 02 Januari 2026

Alat perang kekuatan darat Indonesia di masa Orde Lama

 Pada masa Orde Lama (1945–1966), alutsista TNI Angkatan Darat didominasi oleh peralatan tempur asal Blok Timur (Uni Soviet) dan sebagian sisa rampasan perang atau bantuan Barat. Puncak perkuatan ini terjadi menjelang Operasi Trikora pada awal 1960-an.

Berikut adalah daftar alutsista TNI-AD yang ikonik pada masa tersebut:
𝟏. 𝐊𝐞𝐧𝐝𝐚𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐧𝐤
- 𝑷𝑻-76: Tank ringan amfibi buatan Uni Soviet yang menjadi andalan operasi pendaratan. Meskipun miilik Marinir tetapi bisa dijadikan kekuatan darat.

- 𝑨𝑴𝑿-13: Tank ringan buatan Prancis yang mulai memperkuat kavaleri TNI-AD sejak akhir 1950-an.

- 𝑩𝑻𝑹-40 & 𝑩𝑻𝑹-152: Kendaraan angkut personel lapis baja (APC) roda ban asal Uni Soviet untuk mobilitas infanteri.
BTR-40 RETROFIT

BTR-152

- 𝑩𝑻𝑹-50: Kendaraan angkut personel amfibi yang sering beroperasi bersama tank PT-76.

- 𝑺𝒂𝒍𝒂𝒅𝒊𝒏 & 𝑺𝒂𝒓𝒂𝒄𝒆𝒏: Pansir dan kendaraan angkut personel buatan Inggris yang juga digunakan oleh kavaleri TNI-AD.
Saracen

Saladin


𝟐. 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧
- 𝑨𝑲-47: Senapan serbu standar buatan Uni Soviet yang mulai digunakan secara masif oleh pasukan reguler dan elite (seperti RPKAD).
- 𝑺𝑲𝑺: Senapan semi-otomatis asal Uni Soviet yang juga banyak digunakan sebelum AK-47 mendominasi.

- 𝑨𝒓𝒊𝒔𝒂𝒌𝒂: Senapan peninggalan Jepang yang masih digunakan di awal masa kemerdekaan.
- 𝑴1 𝑮𝒂𝒓𝒂𝒏𝒅 & 𝑳𝒆𝒆-𝑬𝒏𝒇𝒊𝒆𝒍𝒅: Senapan peninggalan era Perang Dunia II yang diperoleh dari rampasan atau bantuan sebelum peralihan ke senjata Blok Timur.
𝟑. 𝐀𝐫𝐭𝐢𝐥𝐞𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚
- 𝑴𝒆𝒓𝒊𝒂𝒎 𝑺-60 (57𝒎𝒎): Senjata penangkis serangan udara (hanud) asal Uni Soviet yang sangat kuat pada zamannya.

- 𝑴-30 (122𝒎𝒎): Howitzer medan buatan Soviet untuk bantuan tembakan jarak jauh.

- 𝒁𝑺𝑼-57-2: Kendaraan pertahanan udara swagerak (self-propelled AA) dengan meriam ganda 57mm.


𝟒. 𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐃𝐚𝐫𝐚𝐭 (𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐚𝐝)
- 𝑴𝒊𝒍 𝑴𝒊-4 "𝑯𝒐𝒖𝒏𝒅": Helikopter angkut serbaguna buatan Uni Soviet yang menjadi cikal bakal kekuatan udara TNI-AD.

- 𝑨𝒆𝒓𝒐 𝑪𝒐𝒎𝒎𝒂𝒏𝒅𝒆𝒓: Pesawat angkut ringan untuk keperluan komando dan koordinasi.

𝟓. 𝐏𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮 𝐊𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 (𝐑𝐮𝐝𝐚𝐥)
- 𝑺𝑨-2 𝑮𝒖𝒊𝒅𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆 (𝑺-75 𝑫𝒗𝒊𝒏𝒂): Meskipun lebih identik dengan TNI-AU, rudal pertahanan udara jarak jauh ini merupakan simbol kekuatan militer Indonesia di era Soekarno yang paling ditakuti.


Kamis, 11 Desember 2025

𝑫𝒓𝒐𝒏𝒆 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝑨𝑵𝑲𝑨 (𝑼𝑨𝑽) 𝑰𝑵𝑫𝑶𝑵𝑬𝑺𝑰𝑨

 Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan, telah menandatangani kontrak untuk pengadaan 12 unit drone tempur ANKA (UAV) dari Turkish Aerospace Industries (TAI) senilai sekitar US$300 juta (sekitar Rp 4,53 triliun).


Drone ANKA-S adalah jenis kendaraan udara nirawak ketinggian sedang, daya tahan panjang (Medium Altitude Long Endurance/MALE), yang mampu terbang hingga 30 jam pada ketinggian 9.100 meter dan memiliki jangkauan sekitar 250 kilometer. Pesawat ini akan digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), serta kemampuan serangan presisi.
Kontrak pembelian ditandatangani pada tanggal 3 Februari 2023, dan diumumkan secara resmi pada Juli-Agustus 2023.

Jumlah dan Distribusi: Total 12 unit drone dibeli untuk memperkuat ketiga matra TNI:
TNI Angkatan Udara (AU): 6 unit.
TNI Angkatan Darat (AD): 3 unit.
TNI Angkatan Laut (AL): 3 unit.
Skema Produksi dan Transfer Teknologi (ToT) :
6 unit pertama akan diproduksi dan dikirim langsung dari Turki.
6 unit sisanya akan dirakit di Indonesia oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai bagian dari program transfer teknologi. Program ini juga mencakup pembangunan fasilitas perakitan akhir (Final Assembly Line) dan kemampuan pemeliharaan, perbaikan, serta pengoperasian di PTDI.

Pengiriman seluruh 12 unit akan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu 32 bulan.
Unit pertama dari drone ANKA-S dilaporkan telah tiba di Indonesia, terlihat di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, pada September-Oktober 2025.

Rabu, 10 Desember 2025

Sistem Persenjataan KRI Brawijaya-320

 KRI Brawijaya-320 adalah fregat multifungsi Terbaru TNI AL, dengan persenjataan canggih empat dimensi, meliputi rudal pertahanan udara (SAM) Aster 15/30 melalui VLS, rudal antigalangan (SSM) Teseo Mk-2E, meriam 127mm (Leonardo 127/64 LW), meriam 76mm (Oto Melara 76/62 Sovraponte), meriam ringan 25mm, dan sistem torpedo untuk anti-kapal selam (A244S Mod.3 Eurotorp). Kapal ini juga dilengkapi sistem peperangan elektronika (EW) dan dirancang untuk misi intelijen serta dukungan pasukan khusus.



Detail Persenjataan KRI Brawijaya-320:

𝐀𝐧𝐭𝐢-𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐒𝐀𝐌):
Sylver Vertical Launching System (VLS) dengan rudal Aster 15 dan 30.


𝐀𝐧𝐭𝐢-𝐏𝐞𝐫𝐦𝐮𝐤𝐚𝐚𝐧 (𝐒𝐒𝐌):
Rudal Otomat Teseo Mk-2E.


𝐌𝐞𝐫𝐢𝐚𝐦:
Meriam Utama: Leonardo 127/64 LW (Kaliber 127mm).
Meriam Medium: Oto Melara 76/62 Sovraponte (Kaliber 76mm).
Meriam Ringan: 25mm KBA (dengan sistem kontrol tembak Dardo).






𝐀𝐧𝐭𝐢-𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦 (𝐀𝐒𝐖):
Sistem Peluncur Torpedo B515 untuk menembakkan 6 torpedo Eurotorp A244S Mod.3 secara bersamaan.


𝐏𝐞𝐩𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐞𝐤𝐭𝐫𝐨𝐧𝐢𝐤𝐚 (𝐄𝐖):
Sistem RECM, RESM, dan CESM.
𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐋𝐚𝐢𝐧:
Sistem Kendali Tembak Dardo untuk meriam 25mm.
Multifunction Radar Leonardo Kronos.
Tactical Data Link (TDL).

𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫ae𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 - 15 Mei 1948

  Hari ini, 78 tahun lalu. Awal 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫43𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 meletus secara resmi pada tanggal 𝟏𝟓 𝐌𝐞𝐢 𝟏𝟗𝟒𝟖, tepa...