Tampilkan postingan dengan label altileri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label altileri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2026

𝐏𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐥𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐮 (𝐠𝐮𝐢𝐝𝐞𝐝 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐥𝐥𝐞𝐫𝐲 𝐬𝐡𝐞𝐥𝐥𝐬/𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐢𝐨𝐧𝐬) - 𝙈982 𝙀𝙭𝙘𝙖𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧, 2𝙆25 𝙆𝙧𝙖𝙨𝙣𝙤𝙥𝙤𝙡, 𝙇𝙚𝙤𝙣𝙖𝙧𝙙𝙤 𝙑𝙪𝙡𝙘𝙖𝙣𝙤

 𝐏𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐥𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐮 (𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐠𝐮𝐢𝐝𝐞𝐝 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐥𝐥𝐞𝐫𝐲 𝐬𝐡𝐞𝐥𝐥𝐬/𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐢𝐨𝐧𝐬) adalah proyektil artileri modern yang dilengkapi dengan sistem pemandu internal untuk mengubah arah terbangnya di udara demi menghantam target dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Berbeda dengan peluru artileri konvensional yang mengandalkan kalkulasi sudut tembakan dan rentan meleset akibat faktor angin atau cuaca, munisi pintar ini mampu mengoreksi jalurnya sendiri setelah ditembakkan dari laras meriam.


𝑱𝒆𝒏𝒊𝒔 𝑺𝒊𝒔𝒕𝒆𝒎 𝑷𝒆𝒎𝒂𝒏𝒅𝒖
Sistem Satelit (GPS/INS): Menggunakan koordinat posisi global untuk mengarahkan proyektil langsung ke target diam yang sudah ditentukan sebelumnya.
Pemandu Laser (Semi-Active Laser): Memerlukan operator di darat atau drone untuk "menyorot" target menggunakan sinar laser. Sensor pada peluru akan mengejar pantulan laser tersebut, sangat efektif untuk target bergerak.
Pemandu Sensor Mandiri (Inframerah/Radar): Dilengkapi pencari (seeker) mandiri untuk mendeteksi tanda panas (inframerah) atau radar dari kendaraan lapis baja musuh secara otomatis.

𝑪𝒐𝒏𝒕𝒐𝒉 𝑷𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖 𝑨𝒓𝒕𝒊𝒍𝒆𝒓𝒊 𝑩𝒆𝒓𝒑𝒆𝒎𝒂𝒏𝒅𝒖 𝑷𝒐𝒑𝒖𝒍𝒆𝒓
Beberapa munisi artileri berpemandu yang paling terkenal dan digunakan dalam pertempuran modern meliputi:

𝙈982 𝙀𝙭𝙘𝙖𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧

𝙈982 𝙀𝙭𝙘𝙖𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧 (𝘼𝙢𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖 𝙎𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙩/𝙎𝙬𝙚𝙙𝙞𝙖)
Kaliber: 155mm.
Sistem Pemandu: GPS dan Inertial Guidance.
Kelebihan: Kompatibel dengan sistem howitzer modern seperti M777 dan CAESAR, memiliki akurasi ekstrem dengan radius kesalahan kurang dari 2 meter.

2𝙆25 𝙆𝙧𝙖𝙨𝙣𝙤𝙥𝙤𝙡

2𝙆25 𝙆𝙧𝙖𝙨𝙣𝙤𝙥𝙤𝙡 (𝙍𝙪𝙨𝙞𝙖)
Kaliber: 152mm atau 155mm.
Sistem Pemandu: Laser semi-otomatis.
Kelebihan: Sangat mematikan terhadap kendaraan bergerak seperti tank karena peluru akan langsung meluncur ke titik sorotan laser pendeteksi target.

𝙇𝙚𝙤𝙣𝙖𝙧𝙙𝙤 𝙑𝙪𝙡𝙘𝙖𝙣𝙤

𝙇𝙚𝙤𝙣𝙖𝙧𝙙𝙤 𝙑𝙪𝙡𝙘𝙖𝙣𝙤 (𝙄𝙩𝙖𝙡𝙞𝙖)
Kaliber: 127mm (angkatan laut) dan 155mm (artileri darat).
Sistem Pemandu: GPS/INS dikombinasikan dengan pemandu laser opsional.
Kelebihan: Menggunakan desain sub-kaliber bersabot yang membuatnya mampu mencapai jarak tembak yang sangat jauh (hingga lebih dari 70 km).

𝑲𝒆𝒖𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓𝒂𝒏
Efisiensi Logistik: Mengurangi jumlah peluru yang harus ditembakkan secara drastis; satu peluru pintar seringkali cukup untuk menggantikan puluhan peluru konvensional.
Mengurangi Kerusakan Kolateral: Akurasi tinggi memastikan target militer hancur tanpa merusak area sipil di sekitarnya secara berlebihan.
Efek Kejutan: Mampu menghancurkan target bernilai tinggi milik musuh (seperti pos komando atau radar) pada tembakan pertama.
#meriam #artillery #howitzer #artilerimedan

Rabu, 24 Desember 2025

Tank-Tank TNI

 Militer Indonesia, khususnya Angkatan Darat (TNI AD), saat ini mengoperasikan berbagai jenis tank, yang dapat dikategorikan menjadi tank tempur utama (MBT) dan tank medium/ringan.

Berikut adalah tank utama yang digunakan:
MBT (Main Battle Tank)
Leopard 2 (varian A4 dan RI) Tank tempur utama (MBT) asal Jerman ini merupakan yang tercanggih dan terkuat di inventaris TNI AD saat ini, dengan lebih dari 100 unit tersedia.
Leopard 2A4

Varian Leopard 2 RI (Republic of Indonesia) adalah versi yang ditingkatkan dengan kemampuan operasional yang lebih spesifik untuk kebutuhan dalam negeri.
MEDIUM TANK
Leopard 2RI


Harimau (Medium Tank) Dikenal juga sebagai Kaplan MT, tank medium hasil kerja sama industri pertahanan Indonesia (PT Pindad) dan Turki (FNSS) ini dirancang untuk pertempuran jarak dekat dan medan yang tidak dapat dijangkau MBT berat. Produksi massal sedang berlangsung, dengan beberapa unit telah beroperasi.
Pindad Harimau


AMX-13 Tank ringan tua asal Prancis ini telah lama digunakan oleh TNI AD. Meskipun sudah berumur, sekitar 275 unit AMX-13 masih dalam pelayanan aktif pada tahun 2024, tetapi dijadwalkan untuk digantikan secara bertahap oleh Medium Tank Harimau.
AMX-13


FV101 Scorpion Tank ringan asal Inggris ini juga termasuk dalam inventaris TNI AD.
FV101 Scorpion


Rabu, 10 Desember 2025

Alutsista mutahir yang dimiliki Korps Altileri Pertahanan udara TNI AD

 Alutsista mutakhir yang digunakan oleh TNI AD untuk pertahanan udara terutama berfokus pada sistem pertahanan udara jarak pendek dan menengah, yang dioperasikan oleh Korps Artileri Pertahanan Udara (Arhanud). Alutsista ini dirancang untuk melindungi titik-titik vital dan pasukan darat dari ancaman udara.

Berikut adalah beberapa alutsista pertahanan udara mutakhir di jajaran TNI AD:
𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐑𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐮𝐤𝐚𝐚𝐧-𝐤𝐞-𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐒𝐀𝐌)
- 𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝑆𝑡𝑎𝑟𝑆𝑡𝑟𝑒𝑎𝑘 𝐻𝑉𝑀 (𝐻𝑖𝑔ℎ 𝑉𝑒𝑙𝑜𝑐𝑖𝑡𝑦 𝑀𝑖𝑠𝑠𝑖𝑙𝑒): Ini adalah salah satu sistem paling canggih TNI AD, berasal dari Inggris (Thales Air Defence).
Fitur Mutakhir: Rudal ini memiliki kecepatan sangat tinggi (lebih dari Mach 3.0), menjadikannya sulit dicegat. Keunggulan utamanya adalah sistem pemandu laser semi-otomatis (SACLOS) yang membuatnya sangat tahan terhadap gangguan (countermeasures) inframerah atau radar.
Platform: Rudal ini dapat diluncurkan dari berbagai platform, termasuk kendaraan dan MANPADS (Man-Portable Air-Defense System).


- 𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝑀𝑖𝑠𝑡𝑟𝑎𝑙 𝑎𝑡𝑙𝑎𝑠 : Rudal jarak pendek buatan Prancis (MBDA Missile Systems) ini juga menjadi tulang punggung Arhanud TNI AD dan telah digunakan secara luas.
Fitur Mutakhir: Dikenal karena kemudahan operasional dan efektivitasnya melawan berbagai ancaman udara konvensional seperti pesawat sayap tetap dan helikopter.





𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐌𝐞𝐫𝐢𝐚𝐦 𝐀𝐧𝐭𝐢-𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭
- 𝑀𝑒𝑟𝑖𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑓𝑜𝑟𝑠 40 𝑚𝑚 𝐿/70 : Meskipun meriam bukanlah teknologi baru, TNI AD memodernisasi dan mengoperasikan varian yang sangat canggih.
Rencana pembelian Meriam bofors 𝑇𝑟𝑖𝑑𝑜𝑛 𝑀𝑘2/𝑆𝑢𝑝𝑒𝑟 𝑅𝑎𝑝𝑖𝑑
Fitur Mutakhir: Sistem Tridon Mk2 telah terintegrasi dengan sistem komputerisasi kendali tembak modern, menjadikannya efektif melawan berbagai target udara, termasuk pesawat tak berawak (drone).


Secara keseluruhan, alutsista mutakhir TNI AD difokuskan pada pertahanan jarak dekat yang responsif dan tahan terhadap peperangan elektronika, melengkapi peran TNI AU dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.