Pabrik senjata pertama di Indonesia yang menjadi cikal bakal industri pertahanan modern adalah ๐จ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ช๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐พ๐๐๐๐๐ (๐จ๐ช๐พ), yang kini dikenal sebagai ๐ท๐ป ๐ท๐๐๐
๐๐
(๐ท๐๐๐๐๐๐).
Berikut adalah rincian sejarah singkatnya:
๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (1808): Didirikan oleh Gubernur Jenderal Belanda, Herman Willem Daendels, di Surabaya dengan nama Constructie Winkel (CW). Awalnya, tempat ini berfungsi sebagai bengkel pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan sarana senjata.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐: Pada tahun 1850, namanya berubah menjadi Artillerie Constructie Winkel (ACW) setelah digabungkan dengan bengkel amunisi (Proyektil Fabriek) dan laboratorium kimia.
๐
๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ต๐๐๐๐ข๐๐ (1918-1920): Akibat pecahnya Perang Dunia I, pabrik ini dipindahkan dari Surabaya ke Bandung (Kiaracondong) karena lokasinya yang lebih strategis dan terlindungi secara geografis.
๐ธ๐๐ ๐พ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐: Setelah kedaulatan Indonesia diakui, pabrik ini diserahkan kepada Pemerintah RI pada tahun 1950 dan berubah nama menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) di bawah pengelolaan TNI AD.
๐๐๐๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐ (1983): Melalui Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1983, statusnya resmi berubah menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama PT Pindad (Persero).
๐น๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐๐๐: Sebelum era kolonial, kerajaan-kerajaan di Nusantara seperti Majapahit sudah memiliki kemampuan memproduksi senjata api tradisional berupa meriam kecil yang disebut Cetbang sejak abad ke-14.


.jpg)


