Tepat hari ini 3 Juni, ๐๐๐ง๐ญ๐๐ซ๐ ๐๐๐ฌ๐ข๐จ๐ง๐๐ฅ ๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐ (๐๐๐) ๐ซ๐๐ฌ๐ฆ๐ข ๐๐ข๐๐๐ง๐ญ๐ฎ๐ค pada tanggal 3 Juni 1947 oleh Presiden Soekarno sebagai upaya untuk menyatukan tentara reguler (TRI) dengan laskar-laskar perjuangan rakyat. Meskipun demikian, hari lahir TNI diperingati setiap tanggal 5 Oktober, yang merujuk pada momen pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai angkatan bersenjata resmi pertama Indonesia pada tahun 1945.
Sejarah panjang pembentukan TNI melewati beberapa fase perubahan nama dan organisasi demi menyesuaikan diri dengan situasi politik serta taktik pertahanan negara.
๐๐ซ๐จ๐ง๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข ๐๐๐ซ๐ฎ๐๐๐ก๐๐ง ๐๐ซ๐ ๐๐ง๐ข๐ฌ๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ :
๐ฉ๐๐
๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐ ๐น๐๐๐๐๐ (๐ฉ๐ฒ๐น) — 22 ๐จ๐๐๐๐๐๐ 1945
Pasca-proklamasi kemerdekaan, pemerintah tidak langsung membentuk tentara nasional untuk menghindari konfrontasi bersenjata dengan pasukan sekutu dan Jepang. Pemerintah mendirikan BKR yang awalnya bertugas menjaga ketertiban umum di bawah naungan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Elemen anggotanya didominasi oleh pemuda mantan Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, dan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL).
๐ป๐๐๐๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐ ๐น๐๐๐๐๐ (๐ป๐ฒ๐น) — 5 ๐ถ๐๐๐๐๐๐ 1945
Melihat ancaman militer Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, Presiden Soekarno meresmikan TKR sebagai angkatan perang resmi pertama. Pembentukan TKR dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan diurus oleh Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.
๐ป๐๐๐๐๐๐ ๐น๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐
๐๐๐๐๐๐ (๐ป๐น๐ฐ) — 23 ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ 1946
Untuk meningkatkan standardisasi militer internasional dan memperbaiki struktur organisasi pertahanan negara, TKR diubah namanya menjadi TRI. Di luar TRI, saat itu masih banyak bermunculan laskar-laskar bersenjata yang dibentuk oleh kelompok masyarakat secara mandiri.
๐ป๐๐๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐
๐๐๐๐๐๐ (๐ป๐ต๐ฐ) — 3 ๐ฑ๐๐๐ 1947
Guna menghindari dualisme kepemimpinan dan menyatukan kekuatan bersenjata Indonesia, Presiden Soekarno melebur TRI bersama seluruh laskar perjuangan rakyat menjadi satu wadah tunggal bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI).
๐จ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐น๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐
๐๐๐๐๐๐ (๐จ๐ฉ๐น๐ฐ) — ๐ป๐๐๐๐ 1962
Pada masa Demokrasi Terpimpin, pemerintah menyatukan Angkatan Perang (AD, AL, AU) dengan Kepolisian Negara (Polri) menjadi satu institusi pertahanan dan keamanan bernama ABRI. Penggabungan ini ditujukan demi efisiensi komando dan meminimalkan konflik internal.
K๐๐๐๐๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐
๐ ๐ป๐ต๐ฐ — 1 ๐จ๐๐๐๐ 1999
Memasuki era reformasi, konsep dwifungsi militer dihapuskan. ABRI secara resmi dipisahkan kembali. Institusi kepolisian berganti menjadi Polri yang berfokus pada keamanan domestik/penegakan hukum, sedangkan institusi militer kembali menggunakan nama TNI yang berfokus penuh pada sektor pertahanan negara.