Kamis, 26 Februari 2026

𝐑𝐨𝐜𝐤𝐰𝐞𝐥𝐥 𝐗𝐅𝐕-𝟏𝟐 - pesawat tempur supersonik eksperimental yang gagal

 𝐑𝐨𝐜𝐤𝐰𝐞𝐥𝐥 𝐗𝐅𝐕-𝟏𝟐 adalah prototipe pesawat tempur supersonik eksperimental yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Pesawat ini dirancang untuk memiliki
kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) serta kecepatan mencapai Mach 2.



𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊
Pesawat ini memiliki desain yang sangat unik untuk mendukung operasional dari kapal induk kecil yang disebut Sea Control Ship.
Thrust Augmented Wing (TAW): Menggunakan konsep sayap penambah daya dorong, di mana lubang-lubang pada sayap yang mirip "tirai Venesia" akan terbuka untuk mengarahkan semburan mesin ke bawah demi mendapatkan daya angkat vertikal.
Konfigurasi Sayap: Memiliki sayap utama di bagian belakang dan canard (sayap kecil) di bagian depan yang ukurannya hampir 50% dari luas sayap utama.
Suku Cadang Gabungan: Untuk menekan biaya, prototipe ini menggunakan bagian hidung dari Douglas A-4 Skyhawk dan saluran udara (intakes) dari McDonnell Douglas F-4 Phantom II.



𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒊𝒔 (𝑻𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏)
Berdasarkan data dari Wikipedia dan Aviastar.org, target performa pesawat ini meliputi:
Kecepatan Maksimum: Mach 2.2 hingga 2.4 (sekitar 2.560 km/jam).
Mesin: 1 unit Pratt & Whitney F401-PW-400 afterburning turbofan.
Persenj4t44n: Direncanakan membawa satu meriam internal M61A1 Vulcan 20mm, dua rudal AIM-7 Sparrow, serta rel di ujung sayap untuk rudal AIM-9 Sidewinder.
Dimensi: Panjang sekitar 13,39 meter dengan rentang sayap 8,69 meter.

𝑲𝒆𝒈𝒂𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒕𝒂𝒍𝒂𝒏
Meskipun teknologinya dianggap inovatif, program ini akhirnya dihentikan pada tahun 1981 karena alasan berikut:
Daya Angkat Kurang: Uji coba menunjukkan bahwa sistem sayap hanya mampu menghasilkan daya angkat sebesar 70-75% dari berat total pesawat, sehingga ia tidak pernah bisa lepas landas secara vertikal tanpa bantuan tali penarik (untethered).
Masalah Teknis: Saluran udara yang rumit menyebabkan penurunan daya dorong yang signifikan dibandingkan estimasi awal.
Perubahan Strategi: Angkatan Laut AS akhirnya lebih memilih pesawat tempur konvensional seperti F/A-18 Hornet dan mengadopsi pesawat VTOL AV-8B Harrier II yang lebih terbukti.

Selasa, 24 Februari 2026

Alutsista TNI AL pada awal ORDE Baru

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐋 melakukan pergeseran besar dengan mempensiunkan kapal-kapal besar buatan Uni Soviet (seperti Penjelajah KRI Irian) yang sulit dirawat karena hambatan suku cadang. Fokus pengadaan beralih ke kapal-kapal Barat yang lebih efisien dan modern.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli untuk TNI AL pada periode tersebut:
1. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑭𝒓𝒆𝒈𝒂𝒕 & 𝑲𝒐𝒓𝒗𝒆𝒕 (Satuan Kapal Eskorta)
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑙𝑎𝑢𝑑 𝐽𝑜𝑛𝑒𝑠 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑑𝑖𝑘𝑢𝑛): Dibeli bekas dari Amerika Serikat pada tahun 1973-1974. Kapal-kapal ini menjadi tulang punggung baru setelah era Soviet berakhir. Contohnya: KRI Samadikun (341), KRI Martadinata (342), KRI Monginsidi (343), dan KRI Ngurah Rai (344).
KRI Martadinata 342

KRI Samadikun 341
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑟𝑖𝑏𝑎𝑙: Dibeli dari Inggris pada akhir 1970-an (efektif masuk awal 80-an) untuk meningkatkan kemampuan tempur laut.
Tribal Class KRI Hasanudin 333


2. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎

𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑦𝑝𝑒 209 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑎𝑘𝑟𝑎): Kontrak pembelian dilakukan pada tahun 1977 dengan Jerman Barat untuk dua unit, yaitu KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402). Ini adalah langkah modernisasi radikal untuk menggantikan armada kapal selam kelas Whiskey buatan Soviet yang sudah tua.
KRI Nanggala 402


3. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑪𝒆𝒑𝒂𝒕 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 (𝑲𝑪𝑹) & 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑷𝒂𝒕𝒓𝒐𝒍𝒊

𝐾𝐶𝑅 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑃𝑆𝑀𝑀 𝑀𝑘5 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑀𝑎𝑛𝑑𝑎𝑢): Dibeli dari Korea Selatan (lisensi Tacoma, AS) pada akhir 1970-an. Kapal ini dilengkapi dengan rudal Exocet MM38 buatan Prancis, yang menandai dimulainya era rudal modern di TNI AL.
KRI Mandau 621


𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑃𝑎𝑡𝑟𝑜𝑙𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐴𝑡𝑡𝑎𝑐𝑘: Merupakan hibah dari Australia pada tahun 1973-1974 untuk memperkuat pengawasan wilayah perairan dan pantai.
Attack Class KRI Siada 862


4. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊 & 𝑳𝒐𝒈𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 (𝑺𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊)

𝐿𝑆𝑇 (𝐿𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑆ℎ𝑖𝑝 𝑇𝑎𝑛𝑘) 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑘 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎: Indonesia mulai memesan kapal angkut tank baru dari Korea Selatan pada akhir 1970-an untuk memperkuat mobilitas Marinir dan pasukan darat.
KRI Teluk Semangka 512


5. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑼𝒅𝒂𝒓𝒂 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑳𝒂𝒖𝒕 (𝑷𝒆𝒏𝒆𝒓𝒃𝒂𝒍)

𝑃𝑒𝑠𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑁𝑜𝑚𝑎𝑑 𝑁22/𝑁24: Dibeli dari Australia mulai tahun 1975 untuk tugas pengintaian maritim dan patroli wilayah.
Nomad N22


𝐻𝑒𝑙𝑖𝑘𝑜𝑝𝑡𝑒𝑟 𝑊𝑒𝑠𝑡𝑙𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑎𝑠𝑝: Didatangkan dari Inggris untuk melengkapi fregat-fregat baru (seperti kelas Tribal) guna keperluan anti-kapal selam (AKS).
Westland Wasp Helicopter



6. 𝑲𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒂𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝑴𝒂𝒓𝒊𝒏𝒊𝒓

AMX-10 pac 90 : Kendaraan pendarat amfibi dari Prancis yang mulai memperkuat Korps Marinir pada awal 1980-an.



AMX-10 PAC 90

Senin, 23 Februari 2026

Alutsista TNI-AU pada awal ORDE BARU

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐀𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝑻𝑵𝑰 𝑨𝑼 mengalami transisi besar dari ketergantungan pada teknologi Uni Soviet ke pesawat buatan Barat (Amerika Serikat, Australia, dan Eropa). Hal ini disebabkan oleh embargo suku cadang dari Uni Soviet pasca-1965 yang melumpuhkan sebagian besar armada lama.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli atau diterima TNI AU pada periode tersebut:
1. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 & 𝑺𝒆𝒓4𝒏𝒈
𝐹-86 𝐴𝑣𝑜𝑛 𝑆𝑎𝑏𝑟𝑒: Diterima sebagai hibah dari Australia (RAAF) pada tahun 1973 sebanyak 16 unit untuk mengisi kekosongan pertahanan udara.

𝐴-4 𝑆𝑘𝑦ℎ𝑎𝑤𝑘: Pengadaan paling fenomenal melalui operasi rahasia bernama Operasi Alpha pada tahun 1979. Indonesia membeli total 32 unit pesawat A-4 Skyhawk dari Isr43l untuk memperkuat armada tempur taktis.

𝐹-5𝐸/𝐹 𝑇𝑖𝑔𝑒𝑟 𝐼𝐼: Kontrak pembelian pesawat tempur supersonik modern ini dimulai pada akhir 1970-an (masuk secara fisik pada 1980) untuk menggantikan posisi pesawat-pesawat lama.


𝑂𝑉-10 𝐵𝑟𝑜𝑛𝑐𝑜: Pesawat serang ringan kontra-insurjensi buatan AS yang dibeli di pertengahan 1970-an untuk mendukung operasi dalam negeri seperti di Timor Timur.


2. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑳𝒂𝒕𝒊𝒉 (𝑻𝒓𝒂𝒊𝒏𝒆𝒓)

𝑇-33 𝐵𝑖𝑟𝑑: Pesawat latih jet dari Amerika Serikat yang didatangkan pada awal 1970-an (sekitar 1973) untuk menjaga kualifikasi terbang para pilot TNI AU.


𝑇-34𝐶 𝑇𝑢𝑟𝑏𝑜 𝑀𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟: Pesawat latih bermesin turboprop yang dibeli pada akhir 1970-an sebagai pengganti pesawat latih lama.


3. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒖𝒕 & 𝑯𝒆𝒍𝒊𝒌𝒐𝒑𝒕𝒆𝒓

𝐶-130 𝐻𝑒𝑟𝑐𝑢𝑙𝑒𝑠: Penambahan armada Lockheed C-130 Hercules tipe B dan H terus dilakukan untuk mendukung mobilitas pasukan.


𝐹𝑜𝑘𝑘𝑒𝑟 𝐹27 𝐹𝑟𝑖𝑒𝑛𝑑𝑠ℎ𝑖𝑝: Pesawat angkut sedang buatan Belanda yang dibeli untuk mendukung logistik dan transportasi VIP/VVIP.


𝑆𝑖𝑘𝑜𝑟𝑠𝑘𝑦 𝑆-58𝑇: Helikopter angkut yang mulai memperkuat skadron helikopter TNI AU pada pertengahan 1970-an.


𝐵𝑂-105: Mulai digunakan setelah PTDI (dahulu IPTN) didirikan pada 1976 dan memproduksi helikopter ini di bawah lisensi Jerman.


4. 𝑆𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑈𝑑𝑎𝑟𝑎

𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑝𝑖𝑒𝑟: Indonesia mulai memesan sistem rudal antipesawat jarak pendek dari Inggris pada akhir 1970-an untuk melindungi pangkalan udara utama.


Jumat, 20 Februari 2026

Pesawat Tempur 𝐉𝐅-𝟏𝟕 𝐓𝐡𝐮𝐧𝐝𝐞𝐫

𝐉𝐅-𝟏𝟕 𝐓𝐡𝐮𝐧𝐝𝐞𝐫 (juga dikenal sebagai FC-1 Xiaolong di Tiongkok) adalah pesawat tempur multirole ringan bermesin tunggal yang dikembangkan bersama oleh Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) dari Tiongkok.

Pesawat ini dirancang untuk menjadi solusi pertahanan udara yang efisien secara biaya, mampu menjalankan berbagai misi mulai dari pencegatan udara, ser4ng4n darat, hingga pengintaian.
𝑷𝒆𝒏𝒈𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 :
Pada Tahun 1999, Tiongkok dan Pakistan menandatangani perjanjian resmi untuk mengembangkan pesawat yang kemudian diberi kode FC-1 (Fighter China-1) oleh Tiongkok dan JF-17 (Joint Fighter-17) oleh Pakistan.
Purwarupa pertama (PT-01) berhasil melakukan penerbangan perdananya di Chengdu, Tiongkok pada 25 Agustus 2003.


Pesawat pertama tiba di Pakistan pada Maret 2007 sebagai hadiah Hari Pakistan. Produksi lokal di Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dimulai, dan pesawat pertama hasil rakitan Pakistan diserahkan kepada Angkatan Udara Pakistan pada November 2009.
𝑲𝒂𝒓𝒂𝒌𝒕𝒆𝒓𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂 𝑱𝑭-17
𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑀𝑢𝑙𝑡𝑖𝑟𝑜𝑙𝑒: Dirancang untuk pertempuran udara-ke-udara dan ser4ng4n udara-ke-permukaan dengan kemampuan beroperasi di berbagai kondisi cuaca.

𝑇𝑒𝑘𝑛𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖 𝐺𝑒𝑛𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 4.5: Varian terbaru, Block III, dilengkapi dengan radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sistem peperangan elektronik canggih, dan kemampuan menemb4kk4n rudal jarak jauh (BVR).
𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎 𝑀𝑒𝑠𝑖𝑛: Ditenagai oleh mesin turbofan tunggal (seperti Klimov RD-93), mampu mencapai kecepatan maksimum Mach 1,6.
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑗4𝑡4𝑎𝑛: Memiliki tujuh titik angkut (hardpoints) untuk berbagai rudal (seperti PL-12 atau SD-10), b0m berpemandu laser, rudal anti-kapal, serta meriam internal 23mm.

𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎: Dikenal sebagai "pengganggu pasar" karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan jet tempur Barat seperti F-16, namun tetap menawarkan kemampuan tempur yang kompetitif.
𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑆𝑎𝑎𝑡 𝐼𝑛𝑖: Pakistan, Myanmar, Nigeria, dan Azerbaijan.
Potensi Pembeli: Per Februari 2026, Indonesia dikabarkan tengah mengevaluasi potensi akuisisi sekitar 40 unit JF-17 sebagai bagian dari modernisasi pertahanan udara. Negara lain seperti Bangladesh dan Libya juga menunjukkan ketertarikan serupa.