Alutsista TNI-AU pada awal ORDE BARU

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐀𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝑻𝑵𝑰 𝑨𝑼 mengalami transisi besar dari ketergantungan pada teknologi Uni Soviet ke pesawat buatan Barat (Amerika Serikat, Australia, dan Eropa). Hal ini disebabkan oleh embargo suku cadang dari Uni Soviet pasca-1965 yang melumpuhkan sebagian besar armada lama.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli atau diterima TNI AU pada periode tersebut:
1. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 & 𝑺𝒆𝒓4𝒏𝒈
𝐹-86 𝐴𝑣𝑜𝑛 𝑆𝑎𝑏𝑟𝑒: Diterima sebagai hibah dari Australia (RAAF) pada tahun 1973 sebanyak 16 unit untuk mengisi kekosongan pertahanan udara.

𝐴-4 𝑆𝑘𝑦ℎ𝑎𝑤𝑘: Pengadaan paling fenomenal melalui operasi rahasia bernama Operasi Alpha pada tahun 1979. Indonesia membeli total 32 unit pesawat A-4 Skyhawk dari Isr43l untuk memperkuat armada tempur taktis.

𝐹-5𝐸/𝐹 𝑇𝑖𝑔𝑒𝑟 𝐼𝐼: Kontrak pembelian pesawat tempur supersonik modern ini dimulai pada akhir 1970-an (masuk secara fisik pada 1980) untuk menggantikan posisi pesawat-pesawat lama.


𝑂𝑉-10 𝐵𝑟𝑜𝑛𝑐𝑜: Pesawat serang ringan kontra-insurjensi buatan AS yang dibeli di pertengahan 1970-an untuk mendukung operasi dalam negeri seperti di Timor Timur.


2. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑳𝒂𝒕𝒊𝒉 (𝑻𝒓𝒂𝒊𝒏𝒆𝒓)

𝑇-33 𝐵𝑖𝑟𝑑: Pesawat latih jet dari Amerika Serikat yang didatangkan pada awal 1970-an (sekitar 1973) untuk menjaga kualifikasi terbang para pilot TNI AU.


𝑇-34𝐶 𝑇𝑢𝑟𝑏𝑜 𝑀𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟: Pesawat latih bermesin turboprop yang dibeli pada akhir 1970-an sebagai pengganti pesawat latih lama.


3. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒖𝒕 & 𝑯𝒆𝒍𝒊𝒌𝒐𝒑𝒕𝒆𝒓

𝐶-130 𝐻𝑒𝑟𝑐𝑢𝑙𝑒𝑠: Penambahan armada Lockheed C-130 Hercules tipe B dan H terus dilakukan untuk mendukung mobilitas pasukan.


𝐹𝑜𝑘𝑘𝑒𝑟 𝐹27 𝐹𝑟𝑖𝑒𝑛𝑑𝑠ℎ𝑖𝑝: Pesawat angkut sedang buatan Belanda yang dibeli untuk mendukung logistik dan transportasi VIP/VVIP.


𝑆𝑖𝑘𝑜𝑟𝑠𝑘𝑦 𝑆-58𝑇: Helikopter angkut yang mulai memperkuat skadron helikopter TNI AU pada pertengahan 1970-an.


𝐵𝑂-105: Mulai digunakan setelah PTDI (dahulu IPTN) didirikan pada 1976 dan memproduksi helikopter ini di bawah lisensi Jerman.


4. 𝑆𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑈𝑑𝑎𝑟𝑎

𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑝𝑖𝑒𝑟: Indonesia mulai memesan sistem rudal antipesawat jarak pendek dari Inggris pada akhir 1970-an untuk melindungi pangkalan udara utama.


Komentar