Kamis, 12 Maret 2026

s𝒊𝒔𝒕𝒆𝒎 𝒓𝒖𝒅𝒂𝒍 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒖𝒅𝒂𝒓𝒂 𝒖𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒈𝒖𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑻𝑵𝑰 𝑨𝑼 𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝟐𝟎𝟐𝟔

 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐔) mengoperasikan sistem rudal pertahanan udara yang terintegrasi di bawah 𝑲𝒐𝒎𝒂𝒏𝒅𝒐 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊 𝑼𝒅𝒂𝒓𝒂 𝑵𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 (𝑲𝒐𝒐𝒑𝒔𝒖𝒅𝒏𝒂𝒔), khususnya oleh satuan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat). Berbeda dengan TNI AD yang lebih fokus pada perlindungan pasukan di darat, sistem di TNI AU dirancang untuk melindungi pangkalan udara, objek vital nasional, dan wilayah udara kedaulatan.

𝑩𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒇𝒕𝒂𝒓 𝒔𝒊𝒔𝒕𝒆𝒎 𝒓𝒖𝒅𝒂𝒍 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒖𝒅𝒂𝒓𝒂 𝒖𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒈𝒖𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑻𝑵𝑰 𝑨𝑼 𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝟐𝟎𝟐𝟔:
𝟏. 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐫𝐚𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡
𝑁𝐴𝑆𝐴𝑀𝑆 2 (National Advanced Surface to Air Missile System): Merupakan alutsista pertahanan udara paling canggih yang dimiliki Indonesia saat ini untuk melindungi Jakarta.
NASAMS 2


Produsen: Kerja sama Kongsberg (Norwegia) dan Raytheon (AS).
Amunisi: Menggunakan rudal AIM-120 AMRAAM.
Kemampuan: Jangkauan tembak standar sekitar 50 km, namun dapat ditingkatkan melalui integrasi data-link. Unit ini ditempatkan di lokasi strategis seperti Teluk Naga untuk memayungi ibu kota.
𝟐. 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐫𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤 (𝐒𝐇𝐎𝐑𝐀𝐃)
𝑂𝑒𝑟𝑙𝑖𝑘𝑜𝑛 𝑆𝑘𝑦𝑠ℎ𝑖𝑒𝑙𝑑: Sistem pertahanan udara titik yang menggabungkan meri4m otomatis 35mm dengan peluncur rudal untuk perlindungan pangkalan.
OERLIKON Skyshield


𝐶ℎ𝑖𝑟𝑜𝑛 (Korea Selatan): Rudal permukaan-ke-udara jarak pendek (VSHORAD) yang sering diintegrasikan dengan sistem Skyshield untuk efektivitas lebih tinggi.
chiron

chiron


𝑄𝑊-3 & 𝑄𝑊-19 (Tiongkok): Rudal panggul (MANPADS) yang digunakan oleh personel Kopasgat untuk menjatuhkan target udara rendah.
QW-3 dan QW-19


𝟑. 𝐑𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚-𝐤𝐞-𝐔𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐃𝐢𝐮𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫)
TNI AU juga memiliki koleksi rudal yang diluncurkan dari pesawat tempur untuk misi intersepsi:
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐽𝑎𝑢ℎ/𝐵𝑉𝑅: 𝐴𝐼𝑀-120𝐶-7 𝐴𝑀𝑅𝐴𝐴𝑀 (𝐴𝑆) untuk F-16 dan R-77 (Rusia) untuk Sukhoi.
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑒𝑘𝑎𝑡: 𝐴𝐼𝑀-9 𝑆𝑖𝑑𝑒𝑤𝑖𝑛𝑑𝑒𝑟 (𝐴𝑆) dan 𝑅-73 (𝑅𝑢𝑠𝑖𝑎).
AMRAAM dan SIDEWINDER
RUDAL R-77 pada SU-30



Modernisasi Rafale: Dengan tibanya unit perdana pesawat Rafale pada Januari 2026, TNI AU juga akan mulai mengoperasikan rudal Meteor (jarak jauh) dan MICA (jarak pendek/menengah) buatan Prancis.
𝟒. 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐭𝐫𝐚𝐭𝐞𝐠𝐢𝐬 (𝟐𝟎𝟐𝟓–𝟐𝟎𝟐𝟔)
TNI AU tengah memperkuat konsep 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎𝑛 𝐴𝑟𝑐ℎ𝑖𝑝𝑒𝑙𝑎𝑔𝑖𝑐 𝐴𝑖𝑟 𝐷𝑒𝑓𝑒𝑛𝑠𝑒 𝑆𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 (𝐼𝐴𝐴𝐷𝑆) 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝐶𝑎𝑘𝑟𝑎 yang mengintegrasikan seluruh sensor radar dan peluncur rudal secara real-time.

Kamis, 05 Maret 2026

𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐇𝐈𝐒𝐀𝐑-𝐎 - Pesanan Indonesia

 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐇𝐈𝐒𝐀𝐑-𝐎 adalah sistem pertahanan udara jarak menengah (Medium Range Air Defense/MERAD) yang dirancang untuk melindungi aset strategis dari ancaman udara modern.

Indonesia telah resmi menandatangani kontrak untuk mengakuisisi sistem pertahanan udara HISAR-O dari perusahaan Roketsan asal Turki. Kesepakatan ini ditandatangani pada rangkaian Indo Defence 2022 Expo & Forum di Jakarta.


𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒊𝒔 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂

Berdasarkan data terbaru dari pengembangnya, Roketsan dan Aselsan, berikut adalah spesifikasi teknis HISAR-O:
Jangkauan Tembak (Range):
Standar (IIR): Hingga 25+ km menggunakan pencari panas (Imaging Infrared).
Varian RF: Lebih dari 40+ km dengan teknologi pencari radar aktif (Radio Frequency).
Ketinggian Intersepsi (Altitude): Mencapai lebih dari 15 km (sekitar 50.000 kaki).
Kecepatan Target: Mampu mencegat target yang bergerak dengan kecepatan tinggi, termasuk pesawat tempur dan rudal jelajah.
Sistem Pemandu (Guidance):
Fase Menengah: Navigasi Inersia (INS) dengan pembaruan data via data link.
Fase Akhir (Terminal): Pencari panas (IIR) atau radar aktif (RF) untuk akurasi tinggi.


𝑭𝒊𝒕𝒖𝒓 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍

Kemampuan 360°: Menggunakan peluncur vertikal (Vertical Launching System), memungkinkannya menemb4k ke segala arah tanpa harus memutar kendaraan peluncur.
Multi-Target: Satu baterai sistem ini dapat melacak lebih dari 60 hingga 100 target secara bersamaan dan melakukan penemb4k4n beruntun.
Target Sasaran: Efektif terhadap jet tempur, helikopter, pesawat tak berawak (UAV/Drone), rudal jelajah, dan rudal udara-ke-darat.
Mobilitas: Seluruh sistem dipasang pada kendaraan truk taktis (seperti Mercedes-Benz Zetros 6x6) untuk mobilitas tinggi di medan tempur.
𝑲𝒐𝒎𝒑𝒐𝒏𝒆𝒏 𝑺𝒂𝒕𝒖 𝑩𝒂𝒕𝒆𝒓𝒂𝒊
Sistem HISAR-O beroperasi secara modular yang terdiri dari:
Fire Control Center (FCC): Pusat kendali dan komando.
Radar 3D (Kalkan): Untuk deteksi dan pelacakan target jarak menengah.
Launch Control Station: Kendaraan peluncur (setiap kendaraan membawa 6 rudal siap temb4k).
Electro-Optical System: Untuk identifikasi target secara visual.


𝑼𝒑𝒅𝒂𝒕𝒆 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒊 𝒓𝒆𝒏𝒄𝒂𝒏𝒂 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒊𝒂𝒏 oleh Indonesia.

Status Pengujian Akhir: Pada Januari 2025, Turki telah menuntaskan pengujian akhir untuk varian Trisula-O (HISAR-O) sebelum memulai produksi massal untuk pesanan Indonesia.
Estimasi Kedatangan: Meskipun tanggal pasti pengiriman pertama belum diumumkan secara terbuka oleh Kementerian Pertahanan, sistem rudal asal Turki lainnya seperti rudal balistik Khan dilaporkan telah mulai tiba di Indonesia sejak Agustus 2025. Pengadaan HISAR-O diperkirakan akan mengikuti jadwal pengiriman alutsista Turki lainnya dalam paket kerjasama strategis ini.
Rencana Penempatan: Sistem Trisula ini diprioritaskan untuk membangun Benteng Pertahanan IKN (Ibu Kota Nusantara), dan/atau pangkalan militer guna menangkal ancaman udara jarak menengah.
Produksi Lokal dan MRO: Roketsan bersama mitra lokal Republikorp tengah menyiapkan pembangunan pabrik rudal di Indonesia. Fasilitas ini nantinya akan menangani pemeliharaan (Maintenance, Repair, and Overhaul) serta perakitan rudal di dalam negeri.
Ekspansi Kemampuan: Selain HISAR-O, Indonesia juga menunjukkan ketertarikan pada sistem Siper (HISAR-U) untuk pertahanan udara jarak jauh yang saat ini juga telah mencapai tahap penerimaan akhir di Turki.

Rabu, 04 Maret 2026

NASAMS2- 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐝𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐤𝐞 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚) 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 sejak 2020

 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚 (𝐝𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐤𝐞 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚) 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐌𝐒 𝟐.

NASAMS 2 (Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System 2) adalah versi pemutakhiran dari sistem pertahanan udara jarak menengah NASAMS yang dikembangkan oleh Kongsberg Defence & Aerospace (Norwegia) dan Raytheon (AS). Sistem ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan berbagai ancaman udara seperti pesawat terbang, helikopter, rudal jelajah, dan drone (UAV).


Di Indonesia, NASAMS 2 telah dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara sejak tahun 2020 untuk melindungi aset strategis dan objek vital, termasuk wilayah ibu kota.

𝑭𝒊𝒕𝒖𝒓 𝒅𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑼𝒕𝒂𝒎𝒂
𝑅𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐶𝑎𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ: Menggunakan radar AN/MPQ-64 Sentinel yang dapat melakukan pemindaian 360 derajat untuk identifikasi target yang lebih cepat.
𝑇𝑒𝑘𝑛𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖 𝐵𝑒𝑟𝑗𝑒𝑗𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔: Memiliki arsitektur net-centric yang memungkinkan unit radar dan peluncur tersebar di area luas namun tetap terhubung ke satu pusat kendali (Fire Control Center).


𝑀𝑢𝑙𝑡𝑖-𝑇𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡: Mampu melacak dan menyerang hingga 72 target secara bersamaan dalam mode aktif maupun pasif.

𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝐹𝑙𝑒𝑘𝑠𝑖𝑏𝑒𝑙: Menggunakan rudal AIM-120 AMRAAM sebagai standar, namun juga kompatibel dengan AIM-9X Sidewinder dan AMRAAM-ER (Extended Range).
𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒊𝒔
𝐽𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑚𝑏𝑎𝑘: Standar sekitar 25–40 km, namun dapat mencapai 70 km jika menggunakan varian rudal AMRAAM-ER.


𝐾𝑒𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚: Mampu menjangkau target hingga ketinggian 15–20 km.

𝑀𝑜𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠: Unit peluncur biasanya dipasang pada truk (seperti Mercedes-Benz Unimog atau truk taktis lainnya) untuk memudahkan perpindahan posisi.

Senin, 02 Maret 2026

𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐈𝐫𝐚𝐧- 2026

 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐝𝐚𝐥 𝐈𝐫𝐚𝐧 saat ini merupakan yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, dengan estimasi inventaris mencapai lebih dari 3.000 rudal balistik.

Berikut adalah klasifikasi utama rudal Iran berdasarkan teknologi terbarunya hingga awal 2026:
1. 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 𝑯𝒊𝒑𝒆𝒓𝒔𝒐𝒏𝒊𝒌
Iran telah melompat ke teknologi hipersonik yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara berlapis seperti Iron Dome.
𝐹𝑎𝑡𝑡𝑎ℎ-1: Rudal hipersonik pertama Iran dengan kecepatan terminal mencapai Mach 13–15 dan kemampuan manuver tinggi.
𝐹𝑎𝑡𝑡𝑎ℎ-2: Varian terbaru yang menggunakan teknologi Hypersonic Glide Vehicle (HGV), memungkinkan proyektil meluncur dan bermanuver setelah peluncuran awal untuk menghindari intersepsi.


2. 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 𝑩𝒂𝒍𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 (𝑱𝒂𝒓𝒂𝒌 𝑴𝒆𝒏𝒆𝒏𝒈𝒂𝒉 & 𝑱𝒂𝒖𝒉)

Fokus utama Iran adalah meningkatkan akurasi dan daya hancur pada jarak hingga 2.000 km.
𝐾ℎ𝑜𝑟𝑟𝑎𝑚𝑠ℎ𝑎ℎ𝑟-4 (𝐾ℎ𝑒𝑖𝑏𝑎𝑟): Rudal paling mematikan saat ini dengan jangkauan 2.000 km dan hulu ledak berat seberat 1.500 kg.


𝑆𝑒𝑗𝑖𝑙: Rudal berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan 2.500 km dan kecepatan sangat tinggi (di atas 17.000 km/jam).


𝑆ℎ𝑎ℎ𝑎𝑏-3, 𝐺ℎ𝑎𝑑𝑟, & 𝐸𝑚𝑎𝑑: Tulang punggung serangan jarak menengah dengan jangkauan antara 1.300 km hingga 1.800 km.


𝐻𝑎𝑗 𝑄𝑎𝑠𝑠𝑒𝑚 & 𝑄𝑎𝑠𝑠𝑒𝑚 𝐵𝑎𝑠𝑖𝑟: Rudal balistik taktis dengan jangkauan sekitar 1.200–1.400 km.


3. 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 𝑱𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒉 (𝑪𝒓𝒖𝒊𝒔𝒆 𝑴𝒊𝒔𝒔𝒊𝒍𝒆𝒔)

Berbeda dengan balistik, rudal jelajah Iran terbang rendah untuk menghindari deteksi radar.
𝐴𝑏𝑢 𝑀𝑎ℎ𝑑𝑖: Rudal jelajah anti-kapal jarak jauh (1.000+ km) yang menggunakan navigasi kecerdasan buatan untuk menyerang target maritim.


𝑃𝑎𝑣𝑒ℎ: Rudal jelajah darat terbaru dengan jangkauan 1.650 km yang mampu menyerang dari berbagai arah.


𝐻𝑜𝑣𝑒𝑦𝑧𝑒ℎ & 𝑆𝑜𝑢𝑚𝑎𝑟: Rudal jelajah strategis yang dirancang untuk serangan presisi permukaan-ke-permukaan di segala cuaca.
𝐻𝑜𝑣𝑒𝑦𝑧𝑒ℎ

𝑆𝑜𝑢𝑚𝑎𝑟

Meskipun telah menghabiskan ratusan rudal dalam konflik baru-baru ini, Iran dilaporkan terus melakukan regenerasi stok melalui fasilitas produksi bawah tanah yang dikenal sebagai "kota rudal".

Kamis, 26 Februari 2026

𝐑𝐨𝐜𝐤𝐰𝐞𝐥𝐥 𝐗𝐅𝐕-𝟏𝟐 - pesawat tempur supersonik eksperimental yang gagal

 𝐑𝐨𝐜𝐤𝐰𝐞𝐥𝐥 𝐗𝐅𝐕-𝟏𝟐 adalah prototipe pesawat tempur supersonik eksperimental yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Pesawat ini dirancang untuk memiliki
kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) serta kecepatan mencapai Mach 2.



𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊
Pesawat ini memiliki desain yang sangat unik untuk mendukung operasional dari kapal induk kecil yang disebut Sea Control Ship.
Thrust Augmented Wing (TAW): Menggunakan konsep sayap penambah daya dorong, di mana lubang-lubang pada sayap yang mirip "tirai Venesia" akan terbuka untuk mengarahkan semburan mesin ke bawah demi mendapatkan daya angkat vertikal.
Konfigurasi Sayap: Memiliki sayap utama di bagian belakang dan canard (sayap kecil) di bagian depan yang ukurannya hampir 50% dari luas sayap utama.
Suku Cadang Gabungan: Untuk menekan biaya, prototipe ini menggunakan bagian hidung dari Douglas A-4 Skyhawk dan saluran udara (intakes) dari McDonnell Douglas F-4 Phantom II.



𝑺𝒑𝒆𝒔𝒊𝒇𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑻𝒆𝒌𝒏𝒊𝒔 (𝑻𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 𝑫𝒆𝒔𝒂𝒊𝒏)
Berdasarkan data dari Wikipedia dan Aviastar.org, target performa pesawat ini meliputi:
Kecepatan Maksimum: Mach 2.2 hingga 2.4 (sekitar 2.560 km/jam).
Mesin: 1 unit Pratt & Whitney F401-PW-400 afterburning turbofan.
Persenj4t44n: Direncanakan membawa satu meriam internal M61A1 Vulcan 20mm, dua rudal AIM-7 Sparrow, serta rel di ujung sayap untuk rudal AIM-9 Sidewinder.
Dimensi: Panjang sekitar 13,39 meter dengan rentang sayap 8,69 meter.

𝑲𝒆𝒈𝒂𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒕𝒂𝒍𝒂𝒏
Meskipun teknologinya dianggap inovatif, program ini akhirnya dihentikan pada tahun 1981 karena alasan berikut:
Daya Angkat Kurang: Uji coba menunjukkan bahwa sistem sayap hanya mampu menghasilkan daya angkat sebesar 70-75% dari berat total pesawat, sehingga ia tidak pernah bisa lepas landas secara vertikal tanpa bantuan tali penarik (untethered).
Masalah Teknis: Saluran udara yang rumit menyebabkan penurunan daya dorong yang signifikan dibandingkan estimasi awal.
Perubahan Strategi: Angkatan Laut AS akhirnya lebih memilih pesawat tempur konvensional seperti F/A-18 Hornet dan mengadopsi pesawat VTOL AV-8B Harrier II yang lebih terbukti.

Selasa, 24 Februari 2026

Alutsista TNI AL pada awal ORDE Baru

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐋 melakukan pergeseran besar dengan mempensiunkan kapal-kapal besar buatan Uni Soviet (seperti Penjelajah KRI Irian) yang sulit dirawat karena hambatan suku cadang. Fokus pengadaan beralih ke kapal-kapal Barat yang lebih efisien dan modern.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli untuk TNI AL pada periode tersebut:
1. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑭𝒓𝒆𝒈𝒂𝒕 & 𝑲𝒐𝒓𝒗𝒆𝒕 (Satuan Kapal Eskorta)
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑙𝑎𝑢𝑑 𝐽𝑜𝑛𝑒𝑠 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑑𝑖𝑘𝑢𝑛): Dibeli bekas dari Amerika Serikat pada tahun 1973-1974. Kapal-kapal ini menjadi tulang punggung baru setelah era Soviet berakhir. Contohnya: KRI Samadikun (341), KRI Martadinata (342), KRI Monginsidi (343), dan KRI Ngurah Rai (344).
KRI Martadinata 342

KRI Samadikun 341
𝐹𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑟𝑖𝑏𝑎𝑙: Dibeli dari Inggris pada akhir 1970-an (efektif masuk awal 80-an) untuk meningkatkan kemampuan tempur laut.
Tribal Class KRI Hasanudin 333


2. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎

𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑦𝑝𝑒 209 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐶𝑎𝑘𝑟𝑎): Kontrak pembelian dilakukan pada tahun 1977 dengan Jerman Barat untuk dua unit, yaitu KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402). Ini adalah langkah modernisasi radikal untuk menggantikan armada kapal selam kelas Whiskey buatan Soviet yang sudah tua.
KRI Nanggala 402


3. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑪𝒆𝒑𝒂𝒕 𝑹𝒖𝒅𝒂𝒍 (𝑲𝑪𝑹) & 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑷𝒂𝒕𝒓𝒐𝒍𝒊

𝐾𝐶𝑅 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑃𝑆𝑀𝑀 𝑀𝑘5 (𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑀𝑎𝑛𝑑𝑎𝑢): Dibeli dari Korea Selatan (lisensi Tacoma, AS) pada akhir 1970-an. Kapal ini dilengkapi dengan rudal Exocet MM38 buatan Prancis, yang menandai dimulainya era rudal modern di TNI AL.
KRI Mandau 621


𝐾𝑎𝑝𝑎𝑙 𝑃𝑎𝑡𝑟𝑜𝑙𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝐴𝑡𝑡𝑎𝑐𝑘: Merupakan hibah dari Australia pada tahun 1973-1974 untuk memperkuat pengawasan wilayah perairan dan pantai.
Attack Class KRI Siada 862


4. 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊 & 𝑳𝒐𝒈𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 (𝑺𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑨𝒎𝒇𝒊𝒃𝒊)

𝐿𝑆𝑇 (𝐿𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑆ℎ𝑖𝑝 𝑇𝑎𝑛𝑘) 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑘 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎: Indonesia mulai memesan kapal angkut tank baru dari Korea Selatan pada akhir 1970-an untuk memperkuat mobilitas Marinir dan pasukan darat.
KRI Teluk Semangka 512


5. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑼𝒅𝒂𝒓𝒂 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑳𝒂𝒖𝒕 (𝑷𝒆𝒏𝒆𝒓𝒃𝒂𝒍)

𝑃𝑒𝑠𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑁𝑜𝑚𝑎𝑑 𝑁22/𝑁24: Dibeli dari Australia mulai tahun 1975 untuk tugas pengintaian maritim dan patroli wilayah.
Nomad N22


𝐻𝑒𝑙𝑖𝑘𝑜𝑝𝑡𝑒𝑟 𝑊𝑒𝑠𝑡𝑙𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑎𝑠𝑝: Didatangkan dari Inggris untuk melengkapi fregat-fregat baru (seperti kelas Tribal) guna keperluan anti-kapal selam (AKS).
Westland Wasp Helicopter



6. 𝑲𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒂𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 𝑴𝒂𝒓𝒊𝒏𝒊𝒓

AMX-10 pac 90 : Kendaraan pendarat amfibi dari Prancis yang mulai memperkuat Korps Marinir pada awal 1980-an.



AMX-10 PAC 90

Senin, 23 Februari 2026

Alutsista TNI-AU pada awal ORDE BARU

 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐀𝐰𝐚𝐥 𝐎𝐑𝐃𝐄 𝐁𝐚𝐫𝐮, periode akhir 1960-an hingga akhir 1970-an, 𝑻𝑵𝑰 𝑨𝑼 mengalami transisi besar dari ketergantungan pada teknologi Uni Soviet ke pesawat buatan Barat (Amerika Serikat, Australia, dan Eropa). Hal ini disebabkan oleh embargo suku cadang dari Uni Soviet pasca-1965 yang melumpuhkan sebagian besar armada lama.

Berikut adalah alutsista utama yang dibeli atau diterima TNI AU pada periode tersebut:
1. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓 & 𝑺𝒆𝒓4𝒏𝒈
𝐹-86 𝐴𝑣𝑜𝑛 𝑆𝑎𝑏𝑟𝑒: Diterima sebagai hibah dari Australia (RAAF) pada tahun 1973 sebanyak 16 unit untuk mengisi kekosongan pertahanan udara.

𝐴-4 𝑆𝑘𝑦ℎ𝑎𝑤𝑘: Pengadaan paling fenomenal melalui operasi rahasia bernama Operasi Alpha pada tahun 1979. Indonesia membeli total 32 unit pesawat A-4 Skyhawk dari Isr43l untuk memperkuat armada tempur taktis.

𝐹-5𝐸/𝐹 𝑇𝑖𝑔𝑒𝑟 𝐼𝐼: Kontrak pembelian pesawat tempur supersonik modern ini dimulai pada akhir 1970-an (masuk secara fisik pada 1980) untuk menggantikan posisi pesawat-pesawat lama.


𝑂𝑉-10 𝐵𝑟𝑜𝑛𝑐𝑜: Pesawat serang ringan kontra-insurjensi buatan AS yang dibeli di pertengahan 1970-an untuk mendukung operasi dalam negeri seperti di Timor Timur.


2. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑳𝒂𝒕𝒊𝒉 (𝑻𝒓𝒂𝒊𝒏𝒆𝒓)

𝑇-33 𝐵𝑖𝑟𝑑: Pesawat latih jet dari Amerika Serikat yang didatangkan pada awal 1970-an (sekitar 1973) untuk menjaga kualifikasi terbang para pilot TNI AU.


𝑇-34𝐶 𝑇𝑢𝑟𝑏𝑜 𝑀𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟: Pesawat latih bermesin turboprop yang dibeli pada akhir 1970-an sebagai pengganti pesawat latih lama.


3. 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒘𝒂𝒕 𝑨𝒏𝒈𝒌𝒖𝒕 & 𝑯𝒆𝒍𝒊𝒌𝒐𝒑𝒕𝒆𝒓

𝐶-130 𝐻𝑒𝑟𝑐𝑢𝑙𝑒𝑠: Penambahan armada Lockheed C-130 Hercules tipe B dan H terus dilakukan untuk mendukung mobilitas pasukan.


𝐹𝑜𝑘𝑘𝑒𝑟 𝐹27 𝐹𝑟𝑖𝑒𝑛𝑑𝑠ℎ𝑖𝑝: Pesawat angkut sedang buatan Belanda yang dibeli untuk mendukung logistik dan transportasi VIP/VVIP.


𝑆𝑖𝑘𝑜𝑟𝑠𝑘𝑦 𝑆-58𝑇: Helikopter angkut yang mulai memperkuat skadron helikopter TNI AU pada pertengahan 1970-an.


𝐵𝑂-105: Mulai digunakan setelah PTDI (dahulu IPTN) didirikan pada 1976 dan memproduksi helikopter ini di bawah lisensi Jerman.


4. 𝑆𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑈𝑑𝑎𝑟𝑎

𝑅𝑢𝑑𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑝𝑖𝑒𝑟: Indonesia mulai memesan sistem rudal antipesawat jarak pendek dari Inggris pada akhir 1970-an untuk melindungi pangkalan udara utama.


𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫ae𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 - 15 Mei 1948

  Hari ini, 78 tahun lalu. Awal 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐫𝐚𝐛-𝐈𝐬𝐫43𝐥 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 meletus secara resmi pada tanggal 𝟏𝟓 𝐌𝐞𝐢 𝟏𝟗𝟒𝟖, tepa...