𝑩𝒐𝒎 𝒄𝒖𝒓𝒂𝒉, 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒃𝒐𝒎 𝒌𝒍𝒂𝒔𝒕𝒆𝒓 (bahasa Inggris: cluster munition), adalah senjata yang dijatuhkan dari udara atau ditembakkan dari darat, yang melepaskan atau mengeluarkan sejumlah besar submunisi (amunisi kecil) peledak, masing-masing dirancang untuk meledak sendiri setelah mencapai target.
𝐊𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐤 𝐮𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐨𝐦 𝐤𝐥𝐚𝐬𝐭𝐞𝐫 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡:
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐿𝑢𝑎𝑠: Bom ini dirancang untuk menyebarkan submunisi di area yang luas, menjadikannya efektif terhadap target area yang tersebar seperti kolom kendaraan militer atau landasan udara.
𝑅𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑊𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑖𝑝𝑖𝑙: Banyak submunisi gagal meledak saat benturan pertama. Submunisi yang tidak meledak ini berfungsi sebagai ranjau darat yang efektif, menimbulkan bahaya serius dan mematikan bagi warga sipil—terutama anak-anak—selama bertahun-tahun setelah konflik berakhir.
𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙: Karena risiko jangka panjang terhadap warga sipil, bom klaster sangat kontroversial. Penggunaannya telah dilarang oleh banyak negara di bawah Konvensi tentang Amunisi Klaster (CCM), sebuah perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, penimbunan, dan transfer senjata semacam itu. Namun, beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, belum meratifikasi perjanjian ini.
𝐏𝐢𝐡𝐚𝐤-𝐩𝐢𝐡𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐨𝐦 𝐤𝐥𝐚𝐬𝐭𝐞𝐫 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐩𝐮𝐭𝐢:
𝐽𝑒𝑟𝑚𝑎𝑛: Pihak pertama yang menggunakan bom klaster secara operasional selama Perang Dunia II dengan jenis bom SD-2.
𝐴𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎 𝑆𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑡:Menggunakan bom ini dalam Perang Dunia II, Perang Vietnam di Kamboja, Perang Irak tahun 2003, dan memasoknya ke Ukraina dalam konflik terkini.
𝑅𝑢𝑠𝑖𝑎/𝑈𝑛𝑖 𝑆𝑜𝑣𝑖𝑒𝑡: Menggunakannya dalam berbagai konflik, termasuk di Afghanistan, Chechnya, Georgia (2008), Suriah, dan secara luas dalam invasi ke Ukraina saat ini.
𝐼𝑠𝑟𝑎𝑒𝑙: Menggunakan bom klaster dalam Perang Yom Kippur (1973), invasi Lebanon tahun 1978, dan kembali menggunakannya dalam perang Lebanon tahun 2006 melawan Hizbullah.
𝐼𝑛𝑔𝑔𝑟𝑖𝑠: Menggunakan amunisi ini bersama AS selama invasi Irak tahun 2003.
𝑌𝑢𝑔𝑜𝑠𝑙𝑎𝑣𝑖𝑎 (𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎): Menggunakannya selama Perang Bosnia tahun 1992-1995.
𝑇ℎ𝑎𝑖𝑙𝑎𝑛𝑑: Mengakui penggunaan bom curah saat konflik perbatasan dengan Kamboja pada tahun 2011.
Suriah: Terbukti menggunakan bom klaster dalam konflik bersenjata internal.
𝑈𝑘𝑟𝑎𝑖𝑛𝑎: Juga menggunakan bom klaster dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Rusia.
Penggunaan bom klaster dalam konflik terkini, terutama oleh Rusia dan Ukraina, menuai kecaman keras dari organisasi hak asasi manusia karena risiko besar terhadap warga sipil, mengingat banyak submunisi yang gagal meledak dan menjadi ranjau darat setelah konflik usai.





Komentar
Posting Komentar